MAN JADDA WAJADA

MAN JADDA WAJADA
Oleh : Barit Fatkur Rosadi


Ada ungkapan yang cukup populer, yaitu man jadda wajada. Ungkapan man jadda wajada berasal dari Bahasa Arab مَنْ جَدَّ وَجَدَ yang kalau diartikan adalah siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan menemukan atau siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan dapat. Ungkapan ini merupakan bagian dari kata-kata mutiara atau kata-kata bijak. 
Orang jawa bilang “wong nandur iku bakale ngunduh” (Orang menanam itu akan memanen). 
Menanam adalah suatu kegiatan melestarikan atau membudidayakan tanaman dengan harapan untuk memperoleh hasil. Jika kegiatan menanam tidak dilakukan maka kegiatan memanen sudah pasti tidak dilakukan. Orang menanam bibit padi sudah pasti akan memanen padinya, orang menanam jagung sudah pasti akan memanen jagung, orang menanam singkong sudah pasti akan memanen singkong, dan tidak mungkin menanam alang-alang akan memanen padi.

Menanam di atas adalah kegiatan dalam arti yang sesungguhnya. Dalam kehidupan manusia sehari-hari menanam juga bisa diartikan hal lain yaitu dalam hal perbuatan dan tingkah laku. Orang jawa bilang “wong nandur iku bakale ngunduh” yang artinya orang yang menanam itu suatu saat akan memanen. Ini berarti bahwa setiap yang kita tanam pasti kita akan memperoleh hasil yang kita tanam tadi. Orang menanam kebaikan sudah pasti akan memanen kebaikan juga, tetapi sebaliknya orang yang menanam keburukan akan memanen keburukan juga. Segala perbuatan yang kita lakukan akan berdampak pada diri kita sendiri baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Dalam pendidikan dasar, kita masih melihat begitu banyaknya mata pelajaran yang harus dipelajari. Negeri ini memang memiliki ciri khas tersendiri. Itu harus kita syukuri dan kita nikmati. Sebagai pondasi anak negeri agar memiliki kekuatan dalam berpikir dan mencintai bumi pertiwi. Mereka dibekali banyak ilmu, mulai dari ilmu agama, ilmu eksak, pendidikan kewarganegaraan, ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan alam, dan lain sebagainya.

Kadang-kadang orang tua atau orang disekitar anak-anak itu menginginkan apa yang mereka inginkan. Semisal, ada seorang anak yang pandai dalam bidang matematika, namun orangtuanya menginginkan anaknya pandai bahasa inggris. Menurut kami, sebagai orangtua yang bijak jangan memaksakan anak untuk menguasi ilmu yang diinginkan orangtuanya. Namun, biarkan anak berkembang sesuai dengan kemampuannya. Sebagai orangtua harus mengarahkan untuk lebih baik.

Tanpa disadari, terkadang para orangtua memaksakan kehendaknya kepada anaknya. Mereka menginginkan anaknya agar seperti dia. Karena banyak anak yang beranjak dewasa tidak pernah mengenali apa sebetulnya kemampuan yang dimiliki pada dirinya. Ketika sudah dewasa dan keadaan terdesak, peluang untuk menggali potensi diri itu akan semakin mengecil. Akhirnya, mereka menjalani aktivitas dengan apa adanya, bukan dalam kemampuan terbaiknya.

Seorang montir akan selalu berusaha mencari sentuhan terbaik dalam memperbaiki motor atau mobil. Ia akan mencoba memperbaiki kendaran dengan cepat dan tepat. Ibarat ada orang datang untuk memperbaiki motor atau mobil, maka ia akan cepat tahu permasalahan pada motor atau mobilnya. Setelah mengetahui permasalahannya, lalu mengambil tindakan yang tepat untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sehingga, dengan ketepatan dan kecepatan orang yang service kepadanya akan merasa puas.

Demikian dengan seorang guru, hendaknya senantiasa menjadi orang yang bersungguh-sungguh dalam menyampaikan ilmunya kepada murid-murid. Belajar membaca karakter masing-masing anak agar lebih mudah dalam proses pembelajaran. Menumbuhkan rasa cinta seorang guru kepada murid-muridnya belum tentu bisa sepenuhnya. Katakanlah ada seorang anak yang tingkah lakunya super, saat diulang gurunya ramai sendiri, kencing di dalam kelas, tidur di dalam kelas, dan sebagainya. Dengan kejadian seperti itu, bisa jadi hati seorang guru masih ada rasa kesal. Oleh karenanya, mari berusaha untuk menanam kebaikan di berbagai ladang.

Kita harus yakin. Bahwa anak-anak itu mempunyai kemampuan yang berbeda. Janganlah kita memaksakan anak untuk seperti kita. Namun, anak itu kita arahkan dan kalau bisa kita munculkan potensi yang ada dalam diri mereka. Setiap hari kita harus sabar dalam mendampingi mereka, agar muncul rasa cinta antara guru dan murid atau boleh dikatakan adanya ikatan bathin. Sehingga penyampaian ilmu dari guru kepada murid akan lebih mudah ditangkap.  

Marilah kita selalu berusaha dengan sekuat tenaga untuk melakukan perbuatan yang baik, karena apapun yang kita lakukan pasti akan ada balasannya. Semua kita bisa berbuat baik. Allah tidak melihat siapa kita dan harta kita. Namun Allah melihat apa yang kita perbuat dan hati kita. Dalam Al-qur’an Allah SWT berfirman bahwa “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan menerima (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan menerima (balasan)nya.”(QS. Al-Zalzalah [99]:7-8). 


Wallahu A'lam Bisshawab.



Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

MY LITTLE STORY WITH SHOGUN

Memberanikan Merangkai Kata

MENUTUP JALAN UMUM