Pentingnya Ukhuwah
PENTINGNYA UKHUWAH
Oleh : Barit Fatkur RosadiUmar
Bin Khattab pernah berkata : Aku tidak mau hidup lama di dunia yang fana ini,
kecuali karena tiga hal : Keindahan berdakwah dan berjihad di jalan-Nya.
Repotnya bangun dan berdiri untuk Qiyamul Lail. Dan indahnya bertemu dengan
sahabat-sahabat seiman.
Semenjak
Rasulullah wafat, Bilal menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengumandangkan
adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar memintanya untuk menjadi muadzin kembali,
dengan hati pilu nan sendu bilal berkata : Biarkan aku hanya menjadi muadzin
Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa
lagi.
Abu
Bakar pun tak bisa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan.
Kesedihan sebab ditinggal wafat Rasulullah terus mengendap di hati Bilal. Dan
kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, dia ikut pasukan Fath
Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria.
Lama
Bilal tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Rasulullah hadir dalam
mimpi Bilal, dan menegurnya : Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa ? Hai Bilal,
mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini ?
Bilal
pun bangun terperanjat, segera dia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk
ziarah ke makam Rasulullah. Sekian tahun sudah dia meninggalkan Rasulullah.
Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah,
pada sang kekasih.
Saat
itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucu
Rasulullah Hasan dan Husein. Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian
beranjak tua memeluk kedua cucu Rasulullah tersebut.
Salah
satu dari keduanya berkata kepada Bilal : Paman, maukah engkau sekali saja
mengumandangkan adzan untuk kami ? Kami ingin mengenang kakek kami. Ketika itu,
Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan
mengharukan itu, dan beliau juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan
adzan, meski sekali saja. Bilal pun memenuhi permintaan itu. Saat waktu shalat
tiba, dia naik pada tempat dahulu biasa dia adzan pada masa Rasulullah masih
hidup. Mulailah dia mengumandangkan adzan.
Saat
lafadz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap,
segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun
hilang, suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu
dirindukan itu telah kembali.
Ketika
Bilal meneriakkan kata Asyhadu an laa ilaha illallah, seluruh isi kota
madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam
pingitan mereka pun keluar.
Dan
saat bilal mengumandangkan Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Madinah
pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan. Semua menangis, teringat
masa-masa indah bersama Rasulullah, Umar bin Khattab yang paling keras
tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya
tercekat oleh air mata yang berderai. Hari itu Madinah mengenang masa saat
masih ada Rasulullah diantara mereka.
Hari
itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah wafat.
Adzan yang tak bisa dirampungkan. Bayangkan kita seolah sedang hidup bersama di
tengah-tengah mereka. Hamba-hamba Allah yang selalu terhubung dengan langit dan
merasakan indahnya ukhuwah dalam kebenaran dan kemuliaan. Maka jika masih ada
batas dalam perjalanan ukhuwah kita, bisa dipastikan kita telah gagal
menggenggam makna ukhuwah yang sebenarnya.
Ada
sebuah nasihat dari Ibnul Qoyyim Al Jauziyah : Ukhuwah itu hanya sekedar buah
dari keimanan kita kepada Allah. Jadi jika ukhuwahnya bermasalah mari kita
evaluasi keimanan kita kepada-Nya. Efek dari hubungan baik kita dengan yang ada
di langit secara langsung berefek pada baiknya keterhubungan kita dengan bumi.
Dalam
sebuah kutipan ada yang mengingatkan kepada kita : Sebesar cintamu pada Allah,
sebesar itu pula cinta orang lain kepadamu. Sebesar ketakutanmu akan murka
Allah, sebesar itu pula keseganan orang lain terhadapmu. Sebesar kesibukanmu
pada Allah, sebesar itu pula orang lain sibuk untukmu. (Kutipan Al-Mughirah). Begitu juga dalam Ayat
Al-Qur'an : Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu
damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu dan bertaqwalah
kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (QS. Al-Hujurat : 10)
Hati
yang beriman adalah hati yang indah, disebabkan dalam hati mereka selalu
tersambung dengan Allah dan selalu meneladani Rasulullah. Hati yang indah
adalah hati yang selalu mengulurkan rasa cinta kepada sesama. Hati mereka
selalu tunduk pada Allah dan Rasulullah, sehingga mudah tunduk pada ukhuwah,
meski dengan berbagai perbedaan yang ada. Maka tak perlu menjaga ukhuwah,
karena ukhuwah hanya akibat dari iman.
Semoga
ukhuwah kita yang terjalin diakibatkan oleh iman yang ada di dalam hati-hati
kita... Aamiin.

Subhanallah. Catatan yg indah.
ReplyDelete