FILOSOFI KUPATAN DAN KUPAT

FILOSOFI KUPATAN DAN KUPAT

Oleh: Barit Fatkur Rosadi, S,Sos.I.,M.Pd.I

Seje Deso Mowo Coro (Beda Desa Beda Cara). Penulis saat berada di Jogja di hari pertama lebaran 'idul fithri mungkin sudah biasa menjumpai masakan kupat, opor, soto, dan berbagai masakan spesian hari raya yang lain. Namun ketika berada di kampung halaman (Gombang dan sekitarnya) khususnya daerah Durenan. Maka, kupat sangat spesial. Karena kupat menjadi simbol hari raya bagi yang menjalankan puasa Syawal enam hari. Yaitu, lebih utamanya dilakukan pada tanggal dua sampai tujuh Syawal dengan berturut-turut. Sehingga pada hari kedelapannya dirayakanlah hari raya ketupat. 

Sebagaimana informasi yang penulis peroleh dari MONENTUM.COM. Menurut KH. Abdul Fatah Muin yang merupakan keturunan dari Mbah Mesir, tradisi kupatan telah berjalan kurang lebih 200 tahun lalu. “Mbah Mesir memiliki kebiasaan bersilaturahmi atau sowan ke Adipati saat lebaran tiba. Dan kembali setelah lebaran ke tujuh.”
Ditambahkan pengasuh Pondok Pesantren Babul Ulum Kecamatan Durenan ini. Selama 6 hari Mbah Mesir maupun para ulama menjalankan puasa Syawal usai berpuasa di bulan Ramadhan. Sampai masyarakat merasa sungkan untuk berhalal bihalal karena tokoh panutan mereka masih berpuasa.
Sebelum puasa Syawal selesai, masyarakat masih belum ada yang bersilaturahmi. Sehingga halal bihalal tersebut baru dilaksanakan setelah Mbah Mesir menyelesaikan puasanya. Dan ini menjadi cikal bakal lebaran ketupat yang selalu dilaksanakan sampai saat ini.

Menurut pengamatan penulis. Sejak penulis masih kecil, saat hari raya ketupat atau kupatan sering diajak ke daerah Durenan dan sekitarnya. Jadi kalau kita mendengar kupatan, maka yang ada dalam pikiran kita langsung tertuju ke daerah Durenan tersebut. Karena sudah menjadi sebuah tradisi, maka pada hari raya ketupat banyak banget orang yang datang kesana.

Mungkin saja saudar-saudaranya sengaja datang ke daerah Durenan pada hari raya ketupat. Terlepas dari mereka menjalankan puasa sunnah Syawal atau tidak. Animo kupatan menjadi daya tarik orang-orang orang sekitar Durenan, dan bahkan luar kota atau bahkan luar provinsi, dan seterusnya. Karena ada magnet atau daya tarik yang dinamakan tradisi "kupatan".

Pada saat hari raya ketupat arus lalu lintas disana sangat padat. Kita sering melihat polisi yang berjaga-jaga mengatur lalu lintas. Mereka mengurai kemacetan di jalan-jalan. Karena banyaknya orang yang datang tumpah ruah kesana. Semisal kita punya saudara disana, kemudian kita mengajak saudara-saudara kita atau tetangga-tetangga kita untuk berduyun-duyun kesana. Sehingga bisa ribuan orang yang datang ke daerah Durenan untuk merayakan hari raya ketupat. Karena ini momentum yang luar biasa bagi kami yang tinggal di daerah sekitarnya. 

Hal yang lebih unik adalah ketika kita mengunjungi rumah di daerah sana, maka kita selalu diberikan makan ketupat. Entah kita kenal atau tidak dengan pemilik rumahnya, insyaAllah kita tetap diberi ketupat. Semisal kita mau makan ketupat gratis satu, dua, tiga piring atau lebih. Nafsu kita makan ketupat sampai mau berdiri saja kesulitan "katakanlah", maka keturutan.
Salah satu simbol pada hari raya ketupat adalah adanya kupat itu sendiri. Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga pada masyarakat Jawa. Seorang angggota Walisongo yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Di dalam penyebarannya, Sunan Kalijaga membudayakan istilah yang dikenal dengan Bakda. Bakda sendiri memiliki arti "setelah". Ada dua Bakda yang dibudayakan, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupatan.
Bakda Lebaran adalah saat hari raya 'idul fitri, dimana seluruh umat Islam diharamkan untuk melaksanakan ibadah puasa. Bakda Kupatan adalah hari raya bagi orang yang menjalankan puasa Syawal selam 6 hari yang dilakukan pada hari ke delapan pada bulan Syawal.
Makna kupat itu sendiri adalah singkatan dari "Ngaku Lepat" atau mengakui kesalahan. Namun, ada juga yang memaknai kupat adalah "Laku Papat" atau empat tindakan. 
Implementasi dari ngaku lepat adalah sungkeman. Prosesi sungkeman dilakukan dengan bersimpuh dihadapan kedua orangtua atau kepada orang yang lebih tua sambil meminta maaf atas segala salah dan khilaf. Tradisi sungkeman mengajarkan kepada kita akan pentingnya menghormati orangtua, bersikap rendah hati, dan meminta keikhlasan dan ampunan dari orangtua kita.
Laku papat merupakan empat tindakan yang ada pada momen lebaran. Empat tindakan itu adalah Lebaran, Luberan, Leburan, dan Laburan.
Pertama. Lebaran. Berasal dari kata "lebar" yang berarti pintu ampunan yang terbuka lebar. Bisa juga memiliki makna usai atau selesai yang menandakan berakhirnya waktu puasa Ramadhan. Yaitu, kita masuk 1 Syawal hari raya 'idul fithri. Kita diperbolehkan untuk makan dan minum sebagaimana biasa.  

Kedua. Luberan. Memiliki makna meluber atau melimpah. Sebagai simbol ajaran untuk senantiasa melaksanakan sedekah kepada mereka yang lebih membutuhkan. Kalau di dalam bulan Ramadhan, kita sebagai umat Muslim diwajibkan membayar zakat fitrah yang juga memiliki nilai-nilai sosial. Selain itu, di zaman sekarang juga banyak para dermawan memberikan sedekahnya kepada yang berhak. Pada saat 'idul fithri banyak yang memberikan uang saku kepada anak-anak. Bolehlah hal ini kita masukkan ke dalam bagian sedekah. Dengan catatan niatnya benar-benar karena Allah SWT semata.
Ketiga. Leburan. Memiliki makna melebur dan habis. Artinya, pada momen lebaran semua kesalahan dan dosa akan melebur habis. karena setiap umat Islam dituntut untuk saling memaafkan satu sama lain. Kita dapat melakukan leburan ini dengan cara, kita berkunjung kepada tetangga, sanak saudara dengan meminta maaf, dan yang kita kunjungi menerima permintaan maaf kita. Jadi, kita saling memaafkan. Sebagai lantaran dosa-dosa kita diampuni Allah SWT, maka salah satu jalannya adalah kita meminta maaf kepada sesama manusia.
Keempat. Laburan. Dapat kita maknai labur atau kapur.  Kapur adalah salah satu zat yang dapat digunakan sebagai penjernih air atau pemutih dinding. Kata tersebut bermakna agar manusia senantiasa menjaga kesucian baik secara lahir maupun bathin antar sesama manusia. Setelah kita menjalankan ibadah puasa Ramadhan satu bulan penuh. Maka, salah satu harapan kita adalah kembalinya kepada kesucian, baik diri ataupun hati kita. Kita labur diri kita dengan ibadah puasa Ramadhan dan bersilaturrahmi untuk saling memaafkan.

Dari uraian kupatan di atas, ada hal yang selalu mengikutinya, yaitu kupat. Kupat merupakan salah satu bagian simbol dari kupatan itu sendiri. Pada kesempatan kali ini, penulis akan mencoba menguraikan beberapa makna filosofis yang ada pada kupat itu sendiri. Langsung saja kita simak ulasannya di bawah ini:
Janur. Janur menurut filosofis Jawa merupakan kepanjangan dari "Sejatine Nur" yang melambangkan seluruh manusia berada dalam kondisi yang bersih dan suci setelah melaksanakan ibadah puasa. Selain itu juga menurut orang Jawa. Janur memiliki kekuatan magis sebagai tolak balak. Karena itu juga banyak yang menggantungkan kupat di depan pintu rumah mereka sebagai tawasul agar jauh dari balak dan bencana.

Anyaman Kupat. Kita yang belum terbiasa membuat kupat. Maka anyaman dan cara menganyamannya sangatlah rumit dan sulit. Anyaman kupat ini dapat kita makna bahwa, dalam kita mengarungi kehidupan dunia ini tentu banyak lika-liku kehidupan yang harus kita jalani. Disatu sisi kita akan merasakan hidup yang mudah. Namun, disisi lain kita juga akan mengalami kesusahan. Disaat ada keruwetan itulah kita diuji untuk mengurainya. Sehingga dalam menjalani hidup ini, kita dihadapkan kehidupan yang berliku-liku dan berkelok-kelok.

Berbentuk Segi Empat. Hal ini menggambarkan bahwa ada empat jenis nafsu dunia, yaitu:
  • Nafsu Amarah, yakni nafsu emosional.
  • Nafsu Lawwamah, yakni nafsu untuk memuaskan rasa lapar.
  • Nafsu Sufiah, yakni nafsu untuk memiliki sesuatu yang indah.
  • Nafsu Muthmainnah, yakni nafsu untuk memaksa diri.
Dan orang yang memakan kupat menggambarkan bahwa ia telah mampu mengendalikan diri dari keempat nafsu tersebut setelah ia menjalankan ibadah puasa selama satu bulan penuh. Diantara beberapa jenis nafsu ini, kita sebagai manusia biasa berusaha untuk mengendalikannya. Kita dalam satu bulan penuh berpuasa Ramadhan digembleng untuk belajar mengendalikan hawa nafsu. Sehingga dalam sebelas bulan ke depan kita diharapkan mampu mengendalikannya dengan baik dan bijak. 

Isi Kupat Berupa Beras. Ini mengandung arti bahwa, sebuah bentuk harapan agar kehidupannya dipenuhi dengan kemakmuran. Selain itu, saat kita membelah kupat, kita akan menemukan warna putih. Hal ini mencerminkan bahwa kita memohon maaf atas segala salah dan khilaf baik yang disengaja ataupun tidak disengaja. Kita juga berharap diri kita dan hati kita seputih isi kupat tersebut atau boleh disebut "kembali kepada kesucian/ 'idul fithri."

Dimasak dengan SantenSanten ini yang membuat masakan kupat bertambah nikmat. Santen berarti juga pangapunten, yaitu memohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan. Dari situlah maka muncul istilah "Mangan Kupat Nganggo Santen, Menawi Lepat Nyuwun Pangapunten." Yang artinya makan kupat menggunakan santan, apabila ada kesalahan mohon dimaafkan. 

Sekian dan demikian beberapa hal terkait kupatan dan kupat yang dapat kami sampaikan. Semoga kita sekalian mampu menjaga tradisi yang baik ini. Karena tradisi ini merupakan bagian dari akulturasi budaya. Menjadi bagian dari dakwah Islamiyah, yang dapat digunakan sebagai media dakwah secara santun. Sehingga budaya-budaya Islam ataupun Jawa yang baik ini senatiasa lestari. Kami mohon maaf dan mohon bimbingannya jika dalam tulisan ini masih banyak kekurangannya.

Wallahu A'lam Bisshawab.

Tulungagung, 27 Mei 2020/ 4 Syawal 1441 H

Oleh : Barit Fatkur Rosadi, S.Sos.I.,M.Pd.I

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

MY LITTLE STORY WITH SHOGUN

Memberanikan Merangkai Kata

MENUTUP JALAN UMUM