Indahnya Ramadhan di Kota Pelajar Yogyakarta

Tulungagung, 13 Mei 2020
Oleh : Barit Fatkur Rosadi


Indahnya Ramadhan di Kota Pelajar Yogyakarta

          Pada saat di MAN 2 Tulungagung banyak kegiatan yang saya ikuti OSIS, Pramuka, PKS, dan Pecinta Alam. Sie keagamaan menjadi bagian dari OSIS. Diantara tugasnya adalah membuat program keagamaan itu sendiri. Salah satunya yaitu mengatur jadwal kultum Madrasah. Kultum yang sudah terjadwal dengan rapi, terkadang ada kelas yang tidak mewakilkan penceramahnya. Kalau sudah begitu, maka perwakilan dari sie keagamaan OSIS harus tampil sebagai penggantinya.
           Jadi, saya sebagai salah satu anggota sie keagamaan harus siap. Sewaktu-waktu ada kelas yang tidak siap, maka kami siap untuk maju. Mulai dari situ muncul dalam diri saya seperti seorang penceramah. Sehingga pada saat memilih untuk study lanjut, saya mencari kampus yang ada jurusan tentang dakwahnya.
      Pilihan saya untuk melanjutkan kuliah akhirnya memilih kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kampus putih, kampus perjuangan, kampus rakyat, kampus yang melahirkan orang-orang hebat. Alasan saya kuliah di UIN SUKA adalah: Pertama, ada jurusan yang saya inginkan, yaitu Jurusan Manajemen Dakwah. Memilih jurusan MD karena; mengeluarkan beasiswa jurusan, peluang diterima besar. Kedua, kota pelajar, kota yang ramah. Ketiga, biaya hidup lebih murah.
        Pada tahun 2007 saya berangkat dari Tulungagung Ke DIY. Sebelum berangkat saya diberi pesan oleh Gus Muthi’ (Gus e Pon. Pes. Darut Taqwa Beji-Boyolangu-Tulungagung) agar mencari temannya yaitu, Kang Ghozali atau Mas Shohib. Saya pertama ke Jogja naik kereta api. Sesampainya di stasiun Lempuyangan saya dijemput Kang Ghozali dan diajak ke Masjidnya. Untuk beberapa waktu saya sementara tinggal ikut mereka.
           Mengingat kalau ikut mereka terlalu lama itu tidak enak hati karena sudah ada beberapa orang. Saya diajak Mas Shohib berputar-putar mencari Masjid yang masih membutuhkan takmir. Alhamdulillah, akhirnya selang beberapa hari saya sudah mendapatkan tempat, yaitu Masjid Nurul Hidayah Deresan. Masjid ini tidak jauh dengan Masjid yang ditempati Kang Ghozali dan Mas Shohib. Saya memilih mengabdikan diri di Masjid. Karena dalam pikiran saya tidak mau membebani orang tua. Minimal kalau tinggal di Masjid tidak memikirkan tempat tinggal.
         Dimulai dari Masjid Nurul Hidayah Deresan inilah saya akan mencoba menuangkan memory Ramadhan 2007-2014. Masjid ini berada di perkampungan warga, ukurannya tidak begitu besar, dan berlantai dua. Lantai 2 biasanya digunakan untuk shalat wajib 5 waktu, sedangkan lantai 1 digunakan untuk pengajian dan kegiatan warga seperti musyawarah takmir, musyawarah RT/RW, kegiatan arisan Ibu-ibu PKK, Kegiatan kepemudaan, kegiatan lansia, dan seterusnya.
         Tahun 2007 menjadi awal saya menjalani puasa Ramadhan di Jogja. Banyak hal yang berbeda dengan suasana di kampung halaman. Saya harus menyesuaikan dan banyak belajar di tempat yang baru. Saya akan mencoba menulis beberapa kenangan-kenangan dalam bulan suci Ramadhan di Masjid Nurul Hidayah Deresan.
    Pertama. Pembentukan Panitia. Sebelum Ramadhan tiba takmir masjid mengadakan musysawarah bersama warga dan para muda-mudi. Pemuda dan pemudi di Deresan dinamakan ORPASI (Organisasi Pemuda Pemudi Sinoman). ORPASI memiliki peran penting di kampung Deresan. Musyawarah ini dilakukan dalam rangka pembentukan kepanitiaan, mulai dari pemilihan ketua, sekretaris, bendahara, dan seksi-seksi. Tujuan pembentukan panitia ini adalah agar perjalan program Ramadhan dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Dalam susunan kepanitiaan dikolaborasikan antara pemuda-pemudi dan orang yang lebih tua usianya. Dengan tujuan agar kepanitiaan dan kegiatan dapat berjalan dengan lancar.


          Kedua. Pengajian. Pengajian yaitu ngaji ilmu agama dengan mengundang ustadz atau ustadzah bersama jama’ah Masjid Nurul Hidayah Deresan. Ada beberapa pengajian yang dilakukan di Masjid kami, yaitu ada pengajian pra Ramadhan, dilaksanakan datangnya bulan suci Ramadhan sebagai bekal menjlalankan puasa Ramadhan. Pengajian menjelang buka puasa, biasanya dilaksanakan 2 kali dan satu bulan Ramadhan. Pengajian Nuzulul Qur’an, dilaksanakan setelah shalat tarawih dalam rangka peringatan turunnya kitab suci Al-Qur’an. Pengajian muda-mudi, dilaksanakan untuk meningkatkan keilmuan para muda-mudi dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Pengajian anak, pengajian anak dilaksanakan setelah shalat ashar sampai maghrib
        Ketiga. Shalat Tarawih. Saat di kampung shalat tarawih kami laksanakan di masjid/ musholla/ langgar/ balaidesa sebanyak 20 rakaat dengan bacaan yang sangat cepat. Teknis pelaksanaan 20 rakaat dengan setiap 2 rakaat salam. Namun, saat di Jogja kebanyakan tarawih 8 rakaat. Sehingga, kalau saya ingin 20 rakaat, pada malam harinya saya menambahkan sendiri.
       Keempat. Kultum. Ada sebuah tradisi tersendiri di daerah Jogja. Tepat setelah jama’ah shalat isya dilaksanakan kultum. Sebelumnya panitia mengumumkan, perolehan infaq kemaren malam xxx, penceramah dan imam shalat tarawih  ustadz…. Kultum ini dilaksanakan selama Ramadhan. Selain setelah shalat isya’, dilaksanakan juga setelah shalat shubuh. Jadi jama’ah selama Ramadhan itu banyak yang ke Masjid.
       Di dalam kultum, kami dari panitia tidak jarang mengambil ustadz-ustadz dari Pondok Pesantren, anak-anak kost yang sudah biasa mengisi ceramah, atau yang lainnya. Para ustadz memiliki ciri khas masing-masing. Adakalanya kalau sudah masuk waktu isya’, sedangkan jadwal penceramahnya belum datang, ini menjadi tugas dari panitia untuk segera menghubunginya. Bahkan, kalau ustdznya tidak hadir, maka kami dari panitia harus sigap untuk segera mencari penggantinya.
         Kelima. Takjil. Takjil sering kita maknai sebagai makanan atau minuman yang digunakan untuk mengawali buka puasa. Padahal, kata takjil diambil dari bahasa Arab, yaitu ajjala-yu’ajjilu-ta’jilan yang artinya menyegerakan atau cepat-cepat. Maksud dari menyegerakan adalah untuk segera membatalkan puasa yang sudah dilakukan ketika waktunya tiba. Kebiasaan sudah lama, istilah takjil di Masjid Nurul Hidayah Deresan digunakan untuk memberikan makanan dan minuman bagi anak-anak ngaji selama Ramadhan atau bagi jama’ah, terutama anak-anak kost. Jadi, selama Ramadhan anak-anak kampung di sekitar Masjid mengaji. Dimulai setelah ashar sampai setelah maghrib. Anak-anak datang mengaji, ketika maghrib buka puasa dulu, dilanjut ambil air wudhu kemudian shalat maghrib berjama’ah.
        Takjil biasanya diambil oleh panitia. Tapi, terkadang juga diantarkan sendiri oleh jama’ah yang mendapatkan jadwal giliran. Adanya takjil membawa semangat anak-anak untuk pergi mengaji ke Masjid. Kalau waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 wib anak-anak mulai berdatangan. Anak yang datang duluan memanggil temannya lewat speaker Masjid. Contoh kalimat panggilannya “Assalaamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh. Teman-teman yang masih berada di rumah diharap segera datang ke Masjid untuk mengaji, dilanjut memanggil nama temannya. Jangan lupa. Wassalaamu’alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh.”
       Keenam. Jaburan. Makanan ringan atau berat yang diberikan oleh warga yang telah dijadwalkan oleh panitia kepada jama’ah tarawih anak-anak. Jaburan biasanya diambil oleh panitia setelah jama’ah maghrib sebelum waktu isya’ datang. Terkadang juga diantarkan sendiri oleh jama’ah yang mendapat giliran. Tempat tarawih anak-anak di Masjid kami di sendirikan. Mereka shalat tarawih di rumah warga yang rumahnya besar. Di tarawih anak-anak juga ada ustadz yang mengisi ceramahnya, biasanya diisi dongeng. Supaya anak-anak selalu semangat uuntuk menjalankan ibadah shalat tarawih. Setelah shalat tarawih selesai, maka saatnya anak-anak diberikan jaburan yang dibagi oleh teman-teman panitia.
       Jaburan juga diberikan kepada jama’ah bapak-bapak atau jama’ah ibu-ibu yang melaksanakan tadarrus Al-Qur’an. Sebgaian ibu-ibu dan para muda-mudi setelah shalat tarawih ada yang menyiapkan makanan dan minuman untuk bapa-bapak dan ibu-ibu yang tadarrus Al-Qur’an.
     Ketujuh. Tadarrus Al-Qur’an. Tadarrus Al-Qur’an kami laksanakan stelah shalat tarawih. Tadarrus Al-Qur’an di masjid kami ada 2 tempat, yaitu lantai 1 masjid untuk jama’ah ibu-ibu, dan lantai 2 untuk jama’ah bapak-bapak. Tadarrus dilaksankan setelah shalat tarawih sampai dam 21.00 WIB atau bisa lebih. Dalam satu malam dapat menyelesaikan 1 juz. Jadi dalam 1 bulan dapat menyelesaikan 1 kali khataman. Hal ini menurut saya luar biasa, nilai istiqomahnya dan semangatnya untuk selalu menghidupi malam-malam di bulan suci Ramadhan.



         Kedelapan. Khatmil Qur’an. Energy positif Al-Qur’an sangat Subhanallah. Kita punya tradisi saat khatmil Qur’an. Kita berusaha mengkonsep dengan baik. Bahkan sesekali kita buat acara khatmil Qur’an dan pembacaan shalawat. Saya rasa kegiatan seperti ini jarang-jarang dilakukan di daerah perkotaan. Tapi saya melihat sesuatu yang berbeda di |Masjid Nurul Hidayah Deresan. Kita kompakkan seluruh jama’ah, bapak-bapak, ibu-ibu, muda-mudi, anak-anak. Kita undang mereka agar ikut serta merasakan barokah khatmil Qur’an.
        Di dalam kegiatan khatmil Qur’an tentu tidak malaikatan ya. Kita minta kepada ibu-ibu untuk masak, yaitu masak ingkung (kalau di Tulungagung namanya lodho). Seperti di desa, kami juga siapkan air mineral. Mencontoh para kyai, air digunakan sebagai media ngalap barokah dari allah SWT melalui Al-Qur’anul Kariim. Subhanallah, dari situ kita dapat melihat sebuah kerjasama dan kerukunan antar warga/ jama’ah. Setelah do’a khatmil Qur’an kita bacakan, maka saatnya menikmati ingkung dan lain-lainnya. Kita menyatu merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa. Semoga dapat dilaksanakan dengan istiqomah. Aamiiin.
      Kesembilan. I’tikaf dan Sahur Bareng. I’tikaf adalah berdiam diri di dalam Masjid untuk mengingat Allah SWT. Di dalam 10 hari terakhir para jama’ah datang ke Masjid untuk i’atikaf. Mereka jam datangnya bermacam-macam, bisa mulai dari jam 00.00 WIB lebih sedikit sampai menjelang shubuh. Karena yang i’tikaf ini dari berbagai usia, maka kita berinisiatif untuk melakukan jama’ah. Dengan tujuan, agar jama’ah yang belum begitu menguasi tentang apa yang harus dilakukan saat i’tikaf, itu ada yang membimbingnya.
       Terutama di malam-malam ganjil, jama’ah semangatnya luar biasa. Bahkan para pemuda dan anak-anak ada yang tidur di masjid. Khawatir kalau tidak bisa ikut i’tikaf secara berjamaah. Amalan yang kita lakukan adalah: mulai dari shalat syukrul wudhu, shalat taubat, shalat tasbih, shalat tahajjud. Hal seperti ini belum saya temukan di kampung. Akan tetapi, saya sangat merasa bahagia bisa bersama ja’mah Masjid Nurul Hidayah Deresan.
        I’tikaf biasa kami lakukan mulai pukul 02.00 WIB sampai dengan  03.00 WIB. Setelah itu kami laksanakan sahur bersama. Meskipun secara spontanitas, ternyata jama’ah yang akan memberikan hidangan sahur selalu ada. Ini merupakan suatu kebersamaan yang sangat indah. Kebersamaan yang mungkin selalu dikenang. Karena ada canda tawa di saat kita berkumpul.
       Kesepuluh.Takbiran. Pelaksanaan takbiran kita bagi 2, yaitu 1 untuk bapak-bapak di lantai 2 Masjid. Sedangkan anak-anak di lantai 11 masjid. Pada malam takbiran untuk na-anak membawa “kado silang”. Kado silang berupa macam-macam isinya, seperti: makanan  atau mainan. Dengan besaran harga yang telah ditentukan oleh panitia. Semisal panitia membatasi besaran harganya Rp. 3000. Maka, anak-anak membawa isi kado dengan harga 3000 an tersebut.
       Secara teknis sebelum hari H. Dari panitia menyiapkan oncor dan lampion untuk anak-anak. Agar lebih meriah suasana takbirannya. Tidak lupa pula kami menyiapkan pengeras suara dengan dinaikkan becak. Peserta takbiran datang dan berkumpul di Masjid setelah jama’ah shalat isya’. Setelah berkumpul semua, kami melaksanakan pawai oncor atau pawai lampion dengan iringan suara takbir yang menggema.
       Beberapa hal di atas merupakan kegiatan yang biasa kami lakukan di Masjid Nurul Hidayah Deresan saat bulan suci Ramadhan tiba. Sedangkan saya pribadi terkadang juga ada jadwal kultum di Masjid-Masjid sekitar kampung yang saya tinggali. Dapat bersilaturrahmi dengan warga sekitar rasanya sangat menyenangkan. Melihat para jama’ah sangat antusias dalam menjalankan ibadah-ibadah di bulan suci Ramadhan. Hati ini terasa haru dan bahagia. Jama’ah di Masjid banyak orang, di jalan-jalan banyak terbentang banner ucapan selamat menjalankan ibadah puasa, dan lain sebagainya.
       Demikian kiranya sedikit cerita pengalaman yang dapat kami tuangkan dalam tulisan kali ini. Semoga dapat diambil hikmahnya, dan semoga warga kampung Deresan, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiiin.

Wallahu A’lam Bisshawab

Comments

  1. Deresan. Kawasan yang sudah familier di telinga. Saya pernah tinggal di Seturan. Juga terlibat aktif kegiatan di Masjid Al-Jihad. Tak ketinggalan rangkaian kegiatan Ramadan dan Idul Fitri. Kurang lebih sama. Hanya saja tarwehnya 20 rakaat karena mayoritas warga orang NU. Bahkan pemilik masjid, yang juga Pak Dukuh, pernah penjabat Ketua MWC NU Kec. Depok. Soal kekompakan warga memang demikianlah adanya. Luar biasa. Itulah Yogyakarta. Sepenggal hatiku masih tinggal di sana.

    ReplyDelete
  2. Deresan. Kawasan yang sudah familier di telinga. Saya pernah tinggal di Seturan. Juga terlibat aktif kegiatan di Masjid Al-Jihad. Tak ketinggalan rangkaian kegiatan Ramadan dan Idul Fitri. Kurang lebih sama. Hanya saja tarwehnya 20 rakaat karena mayoritas warga orang NU. Bahkan pemilik masjid, yang juga Pak Dukuh, pernah penjabat Ketua MWC NU Kec. Depok. Soal kekompakan warga memang demikianlah adanya. Luar biasa. Itulah Yogyakarta. Sepenggal hatiku masih tinggal di sana.

    ReplyDelete
  3. Pengalaman yang luar biasa 👍👍

    ReplyDelete
  4. Mukai asyik ikih kang barit... Mantap2....

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

MY LITTLE STORY WITH SHOGUN

Memberanikan Merangkai Kata

MENUTUP JALAN UMUM