Jalanan Sepi di Hari Raya ‘Idul Fitri 1441 H


Jalanan Sepi di Hari Raya ‘Idul Fitri 1441 H





            Suasana yang tidak biasa dari hari raya ‘idul fitri sebelum-sebelumnya. Hari pertama ‘idul fitri biasanya jalan-jalan dan gang-gang tidak pernah sepi dari orang-orang  yang sedang silaturrahmi atau di daerah kami disebut bakdan. Bakdan adalah kegiatan silaturrahmi dari satu rumah ke rumah yang dilakukan pada hari raya ‘idul fitri.
            Sebelum malan takbir gang-gang di daerah kami masih buka seperti biasa. Akan tetapi pas malam takbir sekitar pukul 21.00 WIB ada kegiatan mendadak. Yaitu, menutup gang-gang yang hanya mesnyisakan cukup sepeda motor atau jalan kaki. Dengan tujuan untuk mengantisipasi orang-orang yang akan mengadakan kegiatan bakdan.
            Kalau biasanya kami shalat ‘ied di balai desa Gombang-Pakel-Tulungagung. Namun pada tahun ini balai desa meniadakan kegiatan shalat sunnah tarawih dan shalat sunnah ‘idul fitri. Sehingga kami melaksanakan shalat sunnah ‘idul fitri di Masjid. Di masjid jama’ahnya tambah banyak, karena jama’ahnya ketambahan dari jama’ah Musholla balai desa. Shalat ‘id dilaksanakan dengan jaga jarak.
            Kami sebagai warga negara mencoba taat pada pemerintah. Salah satu wujud nyata di hari raya ‘idul fitri 1441 H. Kami dan warga sekitar setelah melaksanakan shalat ‘id di masjid. Lantas pulang menuju rumah masing-masing tanpa berjabat tangan dan berdiam diri di rumah masing-masing sambil menikmati makanan yang ada. Makanan dan minuman memang seadanya karena situasi dan kondisi seperti ini.
            Makanan yang khas pada hari raya ‘idul fitri adalah masakan ayam lodho dan sego gurih. Biasanya makanan ini dibawa ke tempat shalat ‘id. Namun, kali ini tetap masak ayam lodho dan sego gurih serta ditaruh di rumah saja. Ini dinikmati setelah pulang dari melakasanakan shalat ‘id. Kami nikmati masakan ibu dengan keluarga sendiri.
            Kemudian, kami melaksanakan silaturrahmi dengan sanak saudara melalui handphone. Sambil menyaksikan balon udara di lagit biru yang sangat cerah. Suasana hari raya ‘idul fitri langit Gombang dihiasi balon plastik yang mengudara. Subhanallah, ini ada sebuah perubahan dalam hal silaturrahmi. Kebiasaannya, kami silaturrahmi dengan berjalan dengan tetangga, sanak saudara sampai hari raya ketupat. Hari raya pertama jalan-jalan dipenuhi orang-orang bersilaturrahmi. Namun, pada kesempatan tahun ini, kita harus merayakan hari raya ‘idul fitri di rumah saja.
            Tidak luput untuk anak-anak mendapatkan uang saku (bahasa jawanya: sangu) dari tuan rumah. Selain banyak makanan dan minuman yang disediakan, juga banyak menyediakan banyak uang. Karena setiap anak kecil mendapatkan uang saku. Terkadang tamu yang datang langsung pulang atau bablasan (ngalap cekap). Sehingga tanpa duduk dulu, tanpa makan dan minum dulu. Langsung melanjutkan perjalanan.
            Jadi menurut hemat kami, jalanan sepi di hari raya ‘idul fitri ini karena; Pertama, masyarakat berusaha taat pada himbauan dari pemerintah, supaya tidak mengadakan silaturrahmi secara langsung. Kedua, kita harus sadar akan kesehatan yang dimulai dari diri kita sendiri. Agar pencegahan pandemi covid-19 dapat berhasil atas kerjasama semua pihak.
Wallahu a’lam bisshawab

Tulungagung, 26 Mei 2020

Barit Fatkur Rosadi




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

MY LITTLE STORY WITH SHOGUN

Memberanikan Merangkai Kata

MENUTUP JALAN UMUM