MAKNA DAN HIKMAH HALAL BI HALAL

MAKNA DAN HIKMAH HALAL BI HALAL


Oleh: Barit Fatkur Rosadi, S.Sos.I, M.Pd.I


Makna Halal Bi Halal
Kegiatan Halal Bi Halal di Bumi Nusantara sangat luar biasa. Dengan berbagai kemasan kegiatannya. Seperti pengajian, reuni, kemu kangen, dan lain sebagainya. Dari lingkup keluarga kecil, keluarga besar, teman-teman sekolah, masyarakat umum, dan seterusnya. Pengajian dalam rangka Halal Bi Halal terkadang dilaksanakan setelah bulan Syawal usai. Salah satu faktornya adalah menunggu jadwal penceramahnya, dan faktor-faktor yang lain.
Makna Halal Bi Halal adalah saling bermaafan di hari lebaran atau hari raya ‘idul fithri. Lebih tepatnya Halal Bi Halal adalah kegiatan silaturahmi dimana diisi dengan saling maaf-memaafkan selama hari raya ‘idul fithri. Saling memaafkan sesama anggota keluarga, tetangga, sanak saudara, dan seluruh umat manusia.
Halal Bi Halal sudah menjadi tradisi di Indonesia. Walaupun kata Halal Bi Halal merupakan kata dari Bahasa Arab, namun orang Arab tidak akan mengerti maknanya karena Halal Bi Halal ini hanya ada di Indonesia dan merupakan kreasi sendiri orang Indonesia. Sehingga Halal Bi Halal menjadi salah satu bagian Kearifan Lokal atau Khazanah Islam Nusantara.
Makna Halal Bi Halal bertujuan untuk menciptakan keharmonisan antar sesama manusia. Jadi, walaupun merupakan kata kreasi tersendiri dari orang Indonesia, hakikat Halal Bi Halal adalah hakikat ajaran Al-Quran.
Makna Halal Bi Halal dalam Tinjauan Al-Quran
Selain itu, di dalam Al-Quran juga disebutkan tentang betapa pentingnya makna Halal Bi Halal dengan menjaga silaturahmi dan saling bermaafan. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 199.
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh" (QS. Al-A'raf:199).
وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ
Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah swt perintahkan supaya dihubungkan (Yaitu mengadakan hubungan silaturahim dan tali persaudaraan).” (QS. Ar-Ra’du : 21).
Makna Halal Bi Halal dalam Tinjauan Hadits
Makna Halal Bi Halal yaitu silaturahmi dan saling memaafkan. Seperti yang telah diketahui, Halal Bi Halal adalah kegiatan silaturahmi dan asling memaafkan yang merupakan risalah islam, dan makna Halal Bi Halal ini tidak terbatas hanya pada saat ‘idul fithri saja. Adapun tujuannya adalah sesuai dengan hadits Nabi Muhammad SAW berikut:
“Barangsiapa yang telah menganiaya kepada orang lain baik dengan cara menghilangkan kehormatannya ataupun dengan sesuatu yang lain maka mintalah halalnya pada orang tersebut seketika itu, sebelum adanya dinar dan dirham tidak laku lagi (sebelum mati). Apabila belum meminta halal sudah mati, dan orang yang menganiaya tadi mempunyai amal sholeh maka diambilah amal sholehnya sebanding dengan penganiayaannya tadi. Dan apabila tidak punya amal sholeh maka amal jelek orang yang dianiaya akan diberikan pada orang yang menganiaya”. (HR. Al Bukhori)
Banyak hadits yang sangat mementingkan makna Halal Bi Halal atau menjaga silaturahmi dan saling memaafkan, diantaranya adalah:
Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Siapa saja yang ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan pengaruhnya, maka sambunglah tali persaudaraan" (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Nabi Muhammad SAW bersabda: "Tidak ada dosa yang pelakunya lebih layak untuk disegerakan hukumannya di dunia dan di akhirat daripada berbuat zalim dan memutuskan tali persaudaraan" (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi).
Nabi Muhammad SAW bersabda: "Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka sambunglah tali silaturrahmi" (HR. Al-Bukhari).
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tidak ada dua orang muslim yang bertemu kemudian bersalaman kecuali dosa keduanya diampuni oleh Allah swt sebelum mereka berpisah.” (HR. Tirmidzi)
Asal-Usul Istilah Halal Bi Halal 
Makna Halal Bi Halal tentunya lebih dipahami oleh orang Indonesia sebagai pencetus istilah Halal Bi Halal ini. Walaupun kata tersebut diambil dari Bahasa Arab, Halal Bi Halal merupakan kreasi orang Indonesia dari zaman dulu. Kata ini dipakai sebagai pengganti istilah silaturahmi dan telah menjadi tradisi di Indonesia saat lebaran.
Halal merupakan lawan kata dari haram. Jadi dari segi hukum makna Halal Bi Halal memberikan kesan bahwa akan terbebas dari dosa seseorang yang melakukannya. Jadi makna Halal Bi Halal menurut tinjauan hukum, membuat sikap yang haram menjadi halal atau tidak berdosa lagi. tentunya hal ini harus didukung dengan saling memaafkan secara lapang dada.
Selain itu, kata Halal menurut tinjauan bahasa atau linguistik berasal dari kata Halla atau Halala. Makna Halal Bi Halal dalam hal ini adalah menyelesaikan masalah atau kesulitan, meluruskan benang kusut, mencairkan yang membeku, melepaskan ikatan yang membelenggu. Dengan melaksanakan Halal Bi Halal untuk silaturahmi dan saling memaafkan, maka seseorang akan menemukan hakikat ‘idul fithri.
Anjuran Halal Bi Halal
Makna Halal Bi Halal selanjutnya dapat ditinjau secara Qur’ani atau menurut Al-Quran. Al-Quran menuntut halal yang baik dan menyenangkan. Jadi seluruh umat muslim dituntut untuk melaksanakan aktivitas yang baik dan menyenangkan bagi semua orang yang terlibat.
Bahkan Al-Quran tidak hanya menuntut sesorang untuk memaafkan orang lain, namun juga berbuat baik terhadap orang yang melakukan kesalahan kepadanya. Oleh karena itu, makna Halal Bi Halal yang sebenarnya adalah menyambungkan hubungan yang putus, mewujudkan keharmonisan dari sebuah konflik, serta berbuat baik secara berkelanjutan.
Jadi, Halal Bi Halal tidak hanya sekedar saling memaafkan saja, namun juga menciptakan kondisi persatuan. Halal Bi Halal bukan hanya sekadar ritual keagamaan, tapi juga merupakan tradisi kemanusiaan dan kebangsaan yang baik.
Ada tiga pelajaran yang bisa kita petik dari kegiatan Halal Bi Halal
Pertama. Pelajaran pertama adalah pembersihan diri dari segala bentuk kesalahan. Di hari nan fitri ini kita “mudik” kepada Allah. Kembali kepada-Nya dengan membawa permohonan ampun. Memohon ampun atas dosa yang terjadi. Kita sadar bahwa diri ini penuh maksiat. Halal Bi Halal menggiring kita untuk kembali kepada ampunan Allah yang sangat luas. Semoga kita kembali kepada fithrah dan menang melawan hawa nafsu. Kembali kepada jati diri yang suci bak bayi yang lahir ke muka bumi.
Kedua. Pelajaran kedua dari Halal Bi Halal adalah membersihkan hati dari rasa benci kepada sesama. Pada suatu hari, ketika Nabi SAW tengah duduk-duduk dengan para sahabatnya, ada seorang pria asing berjalan di hadapan mereka. Orang itu berjalan lalu pergi entah kemana. Setelah pria asing itu berlalu, Nabi berkata kepada para sahabat, “Dialah ahli surga.” Kalimat itu beliau ucapkan tiga kali. Sahabat Abdullah bin Umar penasaran tentang amal perbuatan yang dikerjakannya sampai sampai Nabi menyematinya sebagai ahli surga. Abdullah memutuskan untuk menyusul si “ahli surga” di kediamannya.  Abdullah minta izin menginap selama 3 hari di rumahnya. Pria ini memberinya izin. Ternyata selama 3 hari itu Abdullah tidak melihat amalan-amalannya yang istimewa. Abdullah semakin penasaran. Akhirnya ia bertanya, “Wahai saudaraku, sewaktu engkau lewat di hadapan kami, Rasulullah berkata bahwa engkau adalah ahli surga. Amalan apa yang engkau kerjakan sehingga Rasul sangat memuliakanmu?” Pria sederhana ini menjawab, “Sesungguhnya aku tidak pernah melakukan apa-apa. Aku tidak punya ilmu dan harta yang bisa kusedekahkan. Aku hanya punya rasa cinta kepada Allah, Rasulullah dan sesama manusia.  Setiap malam menjelang tidur, aku selalu berusaha menguatkan rasa cinta itu sekaligus berusaha menghilangkan rasa benci terhadap siapa saja.”
Terkadang karena persaingan bisnis atau faktor lainnya terbesit rasa dendam dan iri hati. Mari kita singkirkan penyakit-penyakit pengotor hati itu dalam momentum Halal Bi Halal. Tidak ada lagi kedengkian, kita ganti dengan kelapangan jiwa. Kita obati kesombongan dengan kerendah-hatian. Kita buang permusuhan dan kita isi dengan persaudaraan.
Ketiga. Pelajaran ketiga adalah memupuk kepedulian dan kebersamaan. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa lepas dari pergaulan dan kebersamaan yang dibangun lewat sikap tolong-menolong. Muslim yang kaya membantu saudaranya yang miskin. Sepatutnya rasa gembira seseorang juga memberikan bentuk kenikmatan yang lain, yaitu kenikmatan bersyukur dengan berupaya membagi kebahagiaan itu kepada sesamanya. Kini, saatnya setiap Muslim membumikan berkah-berkah kesalehan Ramadhan dengan menebar rasa bahagia ke setiap orang, memupuk, merawat dan menjaganya agar mendapatkan buah indahnya ikatan persaudaraan. Waktu Ramadhan kemarin kita diajarkan untuk berbagi melalui zakat fitrah, kemudian memperbanyak infaq.
Di bulan Syawal, sebagai bulan indahnya kebersamaan dalam kasih sayang, merupakan hari-hari yang begitu membahagiakan bagi semua Muslim. Sebuah waktu istimewa untuk dapat bersilaturrahmi, saling mengenal dan saling mendo’akan. Do’a yang dianjurkan saat berjumpa adalah, “Taqobbalallahu minna waminkum (Semoga Allah menerima amalanku dan amalanmu).” Kita hendaknya berusaha mengamalkan tuntunan Rasulullah untuk memberikan kesenangan dan kegembiraan fithri. Bukan saja kepada kerabat dan handai taulan, melainkan pula kepada saudara-saudara kita yang fakir, miskin, atau dalam kondisi yang memprihatinkan (dhu`afa). Agar kelak mereka tidak lagi meminta-minta dan hidup kesusahan, hingga kegembiraan itu terus berlanjut dalam kehidupan yang layak.
Semoga segala kekurangan amal perbuatan pada bulan Ramadhan dapat tertutupi dan ditingkatkan di bulan Syawal ini. Dengan Silaturrahmi ataupun Halal Bi Halal serta meningkatkan amal ibadah lainnya demi menyempurnakan keimanan menjadi insan kamil yang benar-benar bertakwa kepada Allah SWT.
Mudah-mudahan kita mampu menyinergikan Hablun Minallah dan Hablun Minann-Naas (hubungan baik dengan Allah dan sesama) dalam tradisi Halal Bi HalalKepada Allah kita memohon ampunan-Nya dan kepada sesama saudara Muslim kita saling memaafkan.
Wallahu A’lam Bisshawab.


Tulungagung, 30 Mei 2020

Comments

  1. Telah kumaafkan salah khilafmu...
    Sudi kiranya kau ber aku maaf juga...
    تقبل الله منا ومنكم فتقَبَّلَ ياكريم

    ReplyDelete
  2. Kita adakan halal BI halal setelah PSBB dilonggarkan..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

MY LITTLE STORY WITH SHOGUN

Memberanikan Merangkai Kata

MENUTUP JALAN UMUM