Mempondasi Pendidikan Anak di Era Digital


Mempondasi Pendidikan Anak di Era Digital
Barit Fatkur Rosadi (MI NU Nurul Ulum Sukoanyar)




          Jumat, 13 Maret 2020, sekitar pukul 17.00 wib. Di pojok kelas setelah perkuliahan selesai. Saya berbincang dengan teman-teman Madin 2 STAI Muhammadiyah Ketanon Tulungagung. Ada pak Qomarudin (Ketua kelas), Pak Qoirul Anam, Gus Irsyad, Mas Erick, Mas Agus Hasan Nahari,  Bu Ana, Bu  Uswatun, dan Neng Evi. Saya dan pak Qoirul anam membuka diskusi singkat tentang “Pendidikan di Era Digital.”
Zaman terus berkembang, kita harus mampu memposisikan diri dalam situasi dan kondisi. Pendidikan di era digital tentunya tidak bisa kita hindari. Kita yang berada di dalam satuan pendidikan juga harus beradaptasi dengan sekuat tenaga. Guru, murid, dan semua yang terlibat dalam pendidikan dapat kita satukan demi tercapainya tujuan pendidikan.
Menurut kacamata kami, pendidikan di era digital merupakan sebuah proses yang harus kita jalani. Mau tidak mau, ini adalah sebuah perjalanan nyata yang membutuhkan perjuangan demi perkembangan dan kemajuan. Perjuangan di sini dalam bidang pendidikan yang menjadi media pembelajaran.
Menurut UU No. 20 Tahun 2003. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk memberikan bimbingan atau pertolongan dalam mengembangkan potensi jasmani dan rohani yang diberikan oleh orang dewasa kepada anak untuk mencapai kedewasaannya serta mencapai tujuan agar anak mampu melaksanakan tugas hidupnya secara mandiri.
Era digital adalah masa dimana semua dapat saling berkomunikasi sedemikian dekat walaupun saling berjauhan. Era digital yang saat ini kita alami merupakan suatu hal yang membuka cakrawala pengetahuan tanpa batas. Semua hal yang ingin kita ketahui dapat kita akses secara cepat. Melihat dari hal tersebut, kita harus memiliki filter/ alat saring yang kuat sebagai benteng lahir dan bathin.
Dari topik yang kita diskusikan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1.      Tancapkan kepahaman agama sejak dini
Agama menjadi pondasi dasar kita dalam mengarungi kehidupan ini. Pemahaman agama sangat penting disampaikan ke anak sejak dini. Sebab, anak usia PAUD saat ini sudah bisa mengoperasikan HP/ android. Jika hal ini dibiarkan tanpa pengawasan yang kuat, maka anak diusia masih kecil dapat memberikan dampak negatif.
Orang tua sebagai orang yang paling sering berinteraksi dengan anak harus memberikan pengetahuan yang baik dan benar. Sebelum anak-anak kita terkena dampak virus nge-game. Pengaruh lingkungan bermain dapat membawa anak ke hal-hal yang tidak kita inginkan.
Pendidikan agama sejak dini hendaklah sudah ada di rumah keluarga muslim. Didikan tersebut bukan menunggu dari pengajaran di sekolah atau di taman pembelajaran Al Qur’an (TPA). Namun sejak di rumah, orang tua sepatutnya sudah mendidik anak tentang akidah dan cara beribadah yang benar. Kalau memang orang tua tidak bisa mendidik demikian, hendaklah anak diarahkan ke pre-school atau sekolah yang Islami sehingga ia sudah punya bekal agama sejak kecil. Setiap orang tua tentu sangat menginginkan sekali anak penyejuk mata. Perintah untuk mendidik anak di sini berdasarkan ayat,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tahrim: 6).
Di masa para sahabat, mereka juga mendidik anak-anak mereka untuk berpuasa. Mereka sengaja memberikan mainan pada anak-anak supaya sibuk bermain ketika mereka rasakan lapar. Tak tahunya, mereka terus sibuk bermain hingga waktu berbuka (waktu Maghrib) tiba. Begitu pula dalam rangka mendidik anak, para sahabat dahulu mendahulukan anak-anak untuk menjadi imam ketika mereka telah banyak hafalan Al Qur’an. Begitu pula Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendidik ‘Umar bin Abi Salamah adab makan yang benar. Beliau berkata pada ‘Umar,
يَا غُلاَمُ سَمِّ اللَّهَ ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (bacalah bismillah) ketika makanMakanlah dengan tangan kananmu. Makanlah yang ada di dekatmu.” (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)
Pemahaman – pemahaman keagamaan ini akan menjadi pondasi dan sekaligus filter untuk dunia pendidikan di era digital.
2.      Diberikan pengetahuan tentang dampak positif dan negatif
Penggunaan digital (HP/ android) mempunyai peran yang sangat besar terhadap perkembangan dan pertumbuhan anak, baik secara fisik atau mental. Kita sebagai pendidik memiliki kwajiban mengingatkan dan memberitahukan tentang dampak positif dan dampak negatifnya. Memberikan arahan kepada anak-anak sangatlah penting. Kita berikan rambu-rambu agar dalam setiap langkahnya sesuai dengan rel.
3.      Hikmah sejarah Nabi/ sahabat tentang budi pekerti/ akhlaq
Sejarah perjalanan Nabi, Rasul, Sahabat, Auliya’ dan orang-orang shalih dapat diceritakan kepada anak-anak kita sebagai salah satu alat untuk menanamkan pengetahuan. Anak-anak kita memorinya ibarat gelas kosong yang masih dapat diisi air dengan banyak. Memori itu kita isi dengan sejarah tentang budi pekerti yang patut kita contoh. Budi pekerti atau akhlaq ini menjadi dasar yang perlu ditanamkan dalam kepribadian anak didik kita. Karena Rasulullah Muhammad saw diutus oleh Allah swt untuk menyempurnakan akhlaq. Melalui pelajaran tentang orang-orang terdahulu ini, diharapkan anak-anak memiliki pondasi keimanan yang kuat.
Dari pembahasan yang penulis paparkan di atas. Maka kita sebagai seorang guru hendaknya berusaha memberikan pondasi/ landasan kepada anak-anak didik. Tidak sekedar peserta didik, akan tetapi semua yang ada di sekitar kita. Agar pendidikan di era digital ini tidak disalahgunakan oleh anak-anak kita.

Comments

Popular posts from this blog

MY LITTLE STORY WITH SHOGUN

Memberanikan Merangkai Kata

MENUTUP JALAN UMUM