Sabar dan Syukur dalam Bertani

Tulungagung, 20 Mei 2020
Oleh : Barit Fatkur Rosadi

Sabar dan Syukur dalam Bertani

Sudah lama desa kami tidak diguyur hujan. Senin, 18 Mei 2020 langit mendung, angin kencang dan akhirnya turun hujan. Hujan turun disertai angin kecang itu menggerakkan tumbuhan. Seakan-akan pepohonan itu akan pada roboh. Umbul-umbul di depan rumah yang sudah tepancang tidak luput roboh terkena angin.
Bapak dan emak saya adalah petani. Keesokan harinya beliau pergi ke sawah. Di perjalanan melihat tanaman padi banyak yang masih ijo royo-royo. tanaman yang masih ijo royo-royo itu ternyata banayak yang roboh. Sampai di sawahnya, beliau melihat tanaman padi di sawahnya hampir 70 % roboh. Tanaman padi yang umurnya lebih kurang 70 hari ini sudah mulai berisi. Sehingga banyak tanaman padi yang roboh. Akan tetapi, banyak juga tanaman padi orang lain yang roboh.
Saya tidak tahu bagaimana perasaan orang tua saya. Sebagai manusia biasa tentunya agak sedih melihat tanaman yang belum waktunya panen sudah roboh lebih dulu. Sesampai di sawah bapak pulang lagi mencari tali untuk mendirikan dan menali tanaman padi yang roboh. Jadi usaha orang tua saya adalah mendirikan dan menali tanaman pagi agar dapat bertahan dan tumbuh sampai panen.
Menurut analisa penulis, petani harus memiliki sifat dua hal: sabar dan syukur.
Pertama. Sabar. Menurut penuturan Abu Thalib Al-Makky sabar adalah menahan diri dari dorongan hawa nafsu demi menggapai keridaan Tuhannya dan menggantinya dengan bersungguh-sungguh menjalani cobaan-cobaan Allah SWT. sabar terbagi menjadi 3 macam: 1. Sabar dari maksiat, artinya bersabar diri untuk tidak melakukan perbuatan yang dilarang agama.
2. Sabar karena taat kepada Allah SWT, artinya sabar untuk tetap melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan0larangan-Nya dengan senantiasa meningkatkan ketkwaaan kepada-Nya.
3. Sabar karena musibah, artinya sabar ketika ditimpa kemalangan dan ujian.
Dalam proses menanam padi banyak hal yang harus dilalui. Sejak pembibitan sampai sampai panen mungkin banyak hama, kebanjiran atau kekeringan, dan lain sebagainya. Seperti saat ini, lama tidak hujan kemudian tiba-tiba hujan bercampur angin. Akhirnya banyak tanaman padi yang berisi yang roboh.
Jika dalam situasi dan kondisi seperti ini, petani yang beriman kepada Allah SWT hendaknya muncul sifat sabarnya. Apalagi ditambah pada saat ini waktunya bulan suci Ramadhan 1441 H dan musim pandemi covid-19. Mau tidak mau petani tetap menerima kehendak Allah SWT. karena hama, angin, banjir, kemarau, semuanya adalah kehendak Allah SWT.
Kedua. Syukur. Syukur merupakan sikap seseorang untuk tidak menggunakan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT dalam melakukan maksiat kepada-Nya. Bentuk syukur ini ditandai dengan keyakinan hati bahwa nikmat yang diperoleh berasal dari Allah SWT., bukan selain-Nya, lalu diikuti pujian oleh lisan, dan tidak menggunakan nikmat tersebut untuk sesuatu yang dibenci pemberinya.
Bagi petani, tanaman padi yang roboh menjadi pukulan tersendiri. Karena harapan petani dapat menanam padi sampai panen dapat hasil yang sempurna. Akan tetapi, apapun yang telah terjadi dan menimpa petani, petani harus menerima apa yang telah terjadi. Tanaman padi yang roboh tetap harus disyukuri. Tanaman yang roboh masih bisa diuasahan untuk didirikan dengan cara ditali. Sebagai perbandingan untuk menenangkan perasaan, dapat melihat tanaman milik tetangga. Ternyata tanaman yang roboh ada temannya, tidak sendiri.  
Sabar dan syukur adalah dua hal yang dapat menjadi satu kesatuan. Dalam praktiknya memang tidak mudah. Namun sebagai hamba yang ingin beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Seorang hamba harus senantiasa berusaha belajar untuk menjadi bagian golongan orang yang sabar dan syukur.
Demikian salah satu contoh peristiwa sabar dan syukur dari sudut pandang petani saat menanam padi. Selain itu masih banyak contoh-contoh sifat sabar dan syukur dalam kehidupan kita. Kita harus sadar, bahwa semua kejadian yang ada adalah atas kehendak Allah SWT. Sebagai hamba hanyalah bisa berusaha, namun Allah SWT yang menentukannya. Allah berikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan.   




Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

MY LITTLE STORY WITH SHOGUN

Memberanikan Merangkai Kata

MENUTUP JALAN UMUM