Seni Bulan Suci Ramadlan di Masa Kecilku


Seni Bulan Suci di Masa Kecilku
BaritFatkurRosadi, S.Sos.I, M.Pd.I
( Kepala Madrasah MI NU NurulUlumSukoanyar) 
           

            Nama yang diberikan orangtua kepada saya adalah Barit Fatkur Rosadi. Lahir pada hari kamis legi, 14 Januari 1988. Di desa Gombang, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung.
Bulan suci yang penulis maksud di sini adalah bulan suci Ramadhan. Kenapa bulan suci? Karena Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan, rahmat, dan berkah Allah swt. Ramadhan membawa spirit yang luar biasa bagi kami anak-anak yang berada di desa. Banyak cerita yang dapat dituangkan dalam tulisan. Di sini penulis akan mencoba menceritakanbeberapa pengalaman saat masih kecil.
            Di dalam bulan suci Ramadhan banyak amalan ibadah yang dapat kita kerjakan. Seperti puasa, memperbanyak ngaji, dzikir, bersedekah, membantuorangtua, membantu orang lain, dan masih banyak lainnya. Kegiatan seperti ini sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. Namun selain itu, ada kegiatan-kegiatan yang kami kerjakan pada masa lalu.
            Pertama. Tradisi nabuh bedhug sebelum puasa. Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan saya dan teman-teman membunyikan bedhug. Tradisi menabuh bedhug ini disebut dengan tidur.Bedhug ini kami bunyikan antara pagi hari sampai sore hari. Waktunya tepat satu hari sebelum kita mengerjakan puasadansatuharimenjelanghariraya ‘idulfithri. Selain bedhug yang kita tabuh, ada temannya yang bisa kita mainkan, yaitu kentongan. Kedua alat ini sudah ada di masjid atau langgar-langgar yang berada di sekitar rumah kami.
            Selain bedhug dan kentongan ini, biasanya juga ada teman-teman yang membawa alat lain, seperti lempengan besi. Jika bedhugnya dipukul menghasilkan bunyi dug-dug-dug. Kentongan, tong-tong-tong. Lempengan besi, ting-ting-ting. Kolaborasi suara yang dihasilkan dari alat-alat ini sangat luar biasa. Saya dan teman-teman sangat semangat dan sekuat tenaga menabuh alat-alat ini. Tidak jarang telapak tangan kami sampai ngapal.
            Kedua. Membunyikan dor-doran. Di lingkungan kami, saya dan teman sebaya banyak bermain dor-doran. Dor-doran bisa dibuat dari ori, bambu, atau botol minuman. Cara membuat dor-doran dari ori atau bambu adalah potonglah ori atau bambu kurang lebih 1 meter. Potonglah dekat dengan ros-rosan dan lubanglah di atasnya sedikit. Cara membunyikannya, berilah sedikit air dan karbit, tunggulah sekitar 2-3 menit, kemudian nyalakan dengan api menggunakan kayu tepat pada lubang ori atau bambunya itu tadi.Istilah dor-doran ini diambil karena suara yang dihasilkan ori, bambu, atau botol minuman itu.duorr duorr.
            Selain itu juga ada petasan yang kecil-kecil, namanya cimpling. Saya dan teman-teman saat menyalakannya tidak jarang mengenai telapak tangan atau jari-jari kami. Ada juga kembang api, ses, ses der, dan lain sebagainya. Kegiatan seperti ini bisa kami lakukan menjelang adzan maghrib, sebelum tarawih, sesudah tarawih, bahkan saat sahur.
            Ketiga. Shalat Tarawih. Shalat tarawih termasuk shalat sunnah muakkad. Di lingkungan kami dikerjakan 20 rakaat ditambah 3 witirnya. Di waktu kecil, saya dan keluarga biasanya tarawih di balai desa Gombang, Pakel. Kenapa di balai desa? Sebenarnya ada langgar di balai desa itu. Mengingat kalau waktu Ramadhan banyak warga masyarakat lingkungan yang hadir untuk melaksanakan shalat tarawih dan kapasitas langgarnya tidak menampung.Maka tempatnya dialihkan di balai desanya.
            Menurut saya, shalat tarawih ini juga ada seninya. Shalat ini dikerjakan dengan cepat. Belum lama imam berdiri tiba-tiba para makmum sudah bilang aamiiin. Aamiiinnya ini juga dibaca cepat dan keras banget. Pada saat itu, tidak jarang saya beristirahat ditengah-tengah shalat tarawih. Dan kami punya strategi untuk melaksanakan shalat tarawih, yaitu saya dan teman-teman sebaya berdirinya sebelum imam rukuk. hehehe. Di tempat kami pelaksanaan shalat tarawih biasa kami lakukan 20 menit sampai 30 menit.
            Di lingkungan kami pada 10 awal bulan suci Ramadhan yang shalat tarawih jama’ahnya banyak. Di 10 Ramadhan kedua semakin berkurang. Di 10 hari terakhir bulan Ramadhan bertambah banyak lagi. Menurut hemat saya, salah satu faktor yang menambah banyaknya jama’ah di lingkungan kami adalah dengana danya maleman. Maleman adalah malam ganjil pada bulan suci Ramadhan, malam 21, malam 23, malam 25, malam 27, dan malam 29.Jama’ah yang berada di lingkungan kami dijadwalkan untuk membawa berkat atau bisa juga disebut sodaqohan. Berkat yang dibawa jama’ah ini dibagikan setelah sholat tarawih. Namun, sebelum dibagikan di panjatkan do’a bersama terlebih dahulu.
            Keempat. Ronda saat sahur. Kegiatan ronda di desa-desa saat ini mungkin sudah mulai luntur. Pada saat penulis masih kecil, di desa kami masih sangat ramai terdengar gerombolan-gerombolan orang ronda. Kegiatan ronda ini ramai saat datangnya bulan suci Ramadhan. Hampir setiap ada kelompok ronda anak, remaja, atau dewasa. Alat  yang kami gunakan biasanya adalah bedhug dinaikkan ledhog, kentongan, lempengan besi, jurigen tempat minyak, kenong, dan lain-lain. Saat alat-alat ini ditabuh bersamaan, maka akan menghasilkan suara yang khas. Bersama-sama sambil menyuarakan sahur-sahur, sahur-sahur
Selain menggunakan alat yang dipukul, para kaum remaja menggunakan sound system sebagai alat ronda. Dengan dinaikkan ledhog, speaker, aki, ampli, dan lain-lain dibawa mutar-mutar kampung. Biasanya kegiatan ronda ini dilakukan pukul 2-3 pagi (waktu sahur). Supaya tidak ketinggalan ronda, saya dan teman-teman tidur di langgar atau di rumah salah satu teman.
Kelima. Membuat balon udara dari plastik. Tradisi membuat balon udara ini sudah ada sejak penulis masih kecil hingga saat ini. Saya tidak begitu pandai membuatnya, namun saya tetap ikut teman-teman. Bentuk balon udaranya bermacam-macam, misalnya: ada yang berbentuk ketupat, lonjong, dan lain-lain. Balon udara ini, biasanya kami naikkan ke udara setelah pelaksanaan sholatI’ed. Kita siapkan kopoan, korek, blarak, minyak tanah. Lalu kita nyalakan, balon udaranya kita siapkan dan kita taruh di atas nyala api. Setelah kira-kira balon udara sudah terisi asap api dan tekanannya sudah keras.  Maka kopoan siap dinyalakan dan balon udara siapkan dilepaskan ke udara diiringi lantunan sholawat.
Dari beberapa pengalaman di atas banyak hal yang dapat kita ambil hikmahnya. Kemudian penulis mencoba menghubungkan dengan hadis berikut:
مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ
”Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.”
Mengamati hadis di atas penulis merasa sangat bahagia hidup di tengah-tengah masyarakat yang menghargai tradisi. Mungkin bentuk ekspresi kami anak-anak desa menyambut dan mengisi datangnya bulan suci Ramadhan seperti itu. Semoga tradisi yang baik terus berlanjut,  dan semoga kita senantiasa menyambut serta bisa menjumpai bulan Ramadhan dengan penuh gembira. Sehingga kita termasuk umat yang mendapatkan syafa’at dari Nabi Muhammad saw. Aamiiin.

Comments

Popular posts from this blog

MY LITTLE STORY WITH SHOGUN

Memberanikan Merangkai Kata

MENUTUP JALAN UMUM