KAMI RINDU
Tulungagung, 06 Juni 2020
KAMI RINDU
Oleh : Barit Fatkur Rosadi
Sudah terlalu lama kami tidak
berjumpa dengan murid-murid kami secara langsung. Pembelajaran secara online membuat
kita terasa kering. Kalau boleh kita ibaratkan masakan. Kita masak kali ini
hanya dengan satu bumbu saja, mungkin hanya rasa asin saja atau manis saja. Sehingga
rasanya kurang lezat, kurang sensasi, dan kurang bisa dinikmati. Kami merasa
kangen melihat anak-anak mengaji bersama, Shalat dhuha, shalat dhuhur,
berlari-lari, bermain, atau bahkan tangisannya, dan masih banyak lainnya.
Ruangan kelas yang biasanya
setiap hari terdengar begitu ramai, sampai kini hanya meja, kursi, almari, rak,
alat kebersihan, dan buku-buku sebagai penghuninya. Lantunan ayat-ayat suci
al-Qur'an setiap pagi yang terdengar menyejukkan hati, sementara ini engkau
masih di luar sana. Kitab suci yang anak-anak tinggalkan di dalam kelaspun,
seandainya bisa menangis mungkin mereka akan menangis. Sebab, mereka kangen
akan sentuhan dan dibaca oleh anak-anak.
Pada suatu hari saya disuruh
ibu membeli obat padi. Saya membelinya di dekat Madrasah kami. Kebetulan anak
toko obat itu disekolahkan di Madrasah kami. Kami berbincang-bincang sebentar.
Namun menurut saya percakapannya penting. Kurang lebih sebagai berikut:
A : Darimana pak guru?
B : Dari sekolahan bapak,
ngobrol sama guru-guru dan mempersiapakan Penilaian Akhir Tahun (PAT)
A : Bagaimana teknisnya pak?
B : Pada tahun ini kami tetap
menggunakan kertas pensil pak
A : Iya pak, saya setuju.
Selama proses belajar dari rumah ini. Contoh anak saya sendiri, kalau ada tugas
dari gurunya. Mungkin dikerjakan selesai dilanjut dengan bermain. Entah apa
yang dilakukan kami tidak tahu. Memang tetap enak tatap muka pak, meskipun anak
ramai paling tidak sedikit-sedikit tetap ada yang masuk. Ketika anak-anak
belajar di sekolah ada saja hal-hal yang dapat merangsang anak untuk mengingat
materi pembelajaran. Mungkin saat anak-anak dijewer gurunyapun akan selalu
teringat. Coba bandingkan pak, berapa persen materi pembelajaran yang masuk
ketika anak-anak belajar di rumah? 5 persen? berat pak, karena anak-anak saat
belajar yang dihadapi bermacam-macam, ada HP, TV atau yang lainnya. Kemana
orangtuanya? Tidak mungkin orangtua setiap saat mendampingi anak-anak belajar.
Memikirkan untuk yang dimasak besok saja susah, apalagi terus-menerus duduk
mendampingi anak belajar,
Saya rasa percakapannya belum
selesai sudah ada pembeli lagi. Kemudian saya pamit. Penulis mencoba berpikir,
teringat waktu mengaji. Salah satu syarat kita dalam thalabul 'ilmi adalah
pengajaran dari guru ada gurunya. Maka kehadiran seorang guru itu sangat luar
biasa, sangat diharapkan.
Kami rindu agar bisa pergi ke
Madrasah lagi. Kami rindu dengan sahabat-sahabat. Kami tidak mau hanya di rumah
terus sampai berhari-hari. Kami anak-anak juga butuh sosialisai, komunikasi dan
interakasi. Ilmu harus kita dapat langsung dari guru, agar ada nilai
barokahnya. Kalau kita melalui jaringan, darimana nilai keberkahannya?
Kita tidak hanya berpikir
dengan akal, akan tetapi kita juga harus berpikir dengan hati. Do'a kami saat
ini, agar Allah SWT selalu melindungi kami, Allah berikan solusi terbaik untuk
negeri ini. Kami ingin kebiasaan hidup anak-anak senantiasa diisi hal-hal yang
Engkau ridhoi. Agar mereka menjadi anak-anak yang
selalu berbhakti, menjadi generasi Qur'ani, menjadi anak yang sholih dan
shalihah. Aamiiin.
Wallahu A’lam Bisshawab.

Kangen bapak.... Para siswa kangen KPD guru2nya n teman2nya...
ReplyDeleteRasa ne wuyung iku Pye yo
ReplyDeleteSabar ya pak
ReplyDeleteKita eemua rindu, namun apa daya mbak covid blm sgr pergi.
ReplyDeleteInsya Alloh ilmu ttp barokah wl dg sljj, tinggal mrk saja mau meraih keberkahan itu apa tdk, meraih dg mengikuti bimbingan atau instruksi guru. He he bagus pak tulisanya...
Semangat pak...
ReplyDeleteSemua kata rindumu semakin membuatku,
ReplyDeletetak berdaya...
menahan rasa,
ingin jumpa....
(Dewa 19)
ada dewa-19 ada covid-19, terimakasih semua
ReplyDelete