Bapak Rumah Tangga Setengah Hari

Oleh : Barit Fatkur Rosadi
Ahad, 5 Juli 2020. Istri saya diajak tetangga untuk mengaji al-Qur'an di tempat tetangganya sendiri. Dalam acara kirim do'a. Mengaji al-Qur'an, baik bilghoib atau binnadhor seakan sudah menjadi kebiasaan di daerah kami. Masyarakat sering meminta mengaji dalam acara 7 harian orang meninggal, 40 harian, 100 harian, mendak 1, mendak 2, 1000 harian, haul, dan acara lainnya. Dalam majelis itu bisa 3 orang, 4 orang, atau bisa lebih, tergantung permintaan dari pihak keluarga.

Pada hari itu kami bagi tugas, istri mengaji, orangtua dan adik laki-laki ke sawah untuk menanam padi. adik perempuan momong anaknya, dan saya momong anak kami. Saat ini anak kami sudah dua, satu laki-laki dan satu perempuan. Kita wajib mensyukuri rizki dari Allah swt. Kita juga wajib berusaha menjaga amanah dari Allah swt, yaitu anak-anak yang dititipkan kepada kita. Dan mari kira do'akan untuk suami-istri yang belum dikaruniai anak, semoga Allah swt segera memberikan momongan. Aamiiin.

Istri  berangkat ke tempat mengaji sekitar pukul 05.30 wib. Pada waktu itu masih agak petang. Ia berangkat lebih awal sebelum anak-anak bangun. Supaya saat ibunya berangkat tidak ada yang mengganggu. Istri saya berangkat sendirian dengan mengendarai sepeda. Karena jaraknya lumayan dekat.

Alhamdulillaah, pada waktu itu anak-anak bangunnya agak siang, sekitar pukur 06.30 wib. Bangun tidur, anak laki-laki mencari ibunya. Sedangkan anak perempuan tetap tenang, melihat mas nya yang mencari ibunya. Biasanya anak laki-laki mencari ibunya untuk dibuatkan susu. Alhamdulillaah, terkondisikan dengan dibujuk untuk beli sarapan dengan bersepeda.

Saya dan anak perempuan naik motor, dan anak laki-laki naik sepeda. Kami keluar rumah membaca do'a keluar rumah dan do'a naik kendaraan. Dengan sanatai kami jalan-jalan menuju penjual nasi. Sampai di tempat penjual nasi, ternyata sepi, sepertinya hari itu orangnya tidak berjualan. Kami lanjutkan ke tempat penjual nasi yang lain. Kami pergi ke desa sebelah dengan melintasi sungai. Saat melintasi jembatan si keci saya minta untuk turun dan menuntun sepedanya. Karena jembatannya sempit. Sesampainya di tempat penjual nasi kedua, alhamdulillaah orangnya ada, akan tetapi nasinya pas habis.

Karena sudah dua tempat belum mendapatkan juga, kami lanjutkan bersepeda agak lebih jauh lagi. Kebetulan jalannya itu di sampingnya ada sungai. Jadi, banyak pemandangan di kanan dan kiri kami. Namun, jalannya masih agak rusak. Meskipun dulunya sudah diaspal, tapi sudah waktunya diperbaiki lagi. Setelah sekian ratus meter, akhirnya menemui jalan yang beraspal halus lagi.

Dari situ, kami menuju jalan untuk arah pulang ke rumah. Dengan santai kami bersepeda. Sampai di tengah perjalanan menemukan warung nasi. Di situ kami berhenti untuk membeli nasi, sekaligus beristirahat. Nasi yang dijual ada nasi kuning dengan lauk mie dan telur, cukup dengan tiga ribu rupiah. Kami membeli tiga bungkus nasi kuning dan tiga bukngus mie seribuan.

Selesai membeli sarapan, kami lagsung pulang menuju rumah. Di rumah kami makan sarapan yang kami beli tadi. seusai sarapan, kami bermain di rumah. Alhamdulillaah, sampai siang  atau sampai ibunya pulang sekitar pukul 13.00 wib anak-anak aman terkendali. Dalam rentang waktu pagi sampai siang itu, kita butuh strategi agar anak-anak tetap enjoy. Kita ajak anak-anak bermain, agar tidak teringat ibunya yang sedang mengaji.  

Jadi, bagi kita selaku bapak atau ayah jarang momong sampai waktu yang lumayan lama. Namun, terkadang ada di lingkungan kita seorang istri pergi ke luar negeri untuk mencari nafkah. Sehingga seorang ayah harus momong anaknya. Akan tetapi, juga ada yang membantu momongnya, yaitu kakek atau neneknya. Dengan demikian, kita sebagai ayah hendaknya belajar ikut momong si kecil, agar dapat meringankan beban dari istri.

Tulisan ini mencoba mengingatkan kita sebagai laki-laki. Betapa beratnya tugas seorang ibu. Biarpun laki-laki mempunyai badan yang kuat atau boleh kita katakan "otot kawat balung besi". Mungkin hanya sebagian kecil yang bisa gantikan peran dari seorang ibu. Kita harus sayang kepada istri kita, orang tua kita, keluarga kita, dan semuanya. Agar kita tidak menjadi orang yang sombong. Kita hidup selalu membutuhkan orang lain. Kita butuh Allah swt kapanpun dan dimanapun. 

Wallahu A'lam Bisshawab.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

MY LITTLE STORY WITH SHOGUN

Memberanikan Merangkai Kata

MENUTUP JALAN UMUM