BLENDRANG
BLENDRANG
Dulu, Sekarang, dan Esok
Oleh: Barit Fatkur RosadiKENANGAN
Saya hidup di daerah pedesaan, di desa Gombang, Kec. Pakel, Kab. Tulungagung. Alhamdulillah di sekitar rumah ada beberapa tanaman yang dapat dimasak. Orangtua sering masak dari tanaman sayur yang berada di sekitar rumah. Ada tewel/nangka muda, kluwih, terong, daun ketela, koro, ontong pisang/jantung pisang, dan masih banyak lainnya. Kalau ingin masak yang lain bisa pergi ke pasar templek.
Pasar templek sendiri saat saya masih kecil sudah ada. Pasar templek yaitu sebuah pasar yang ada di desa kami. Pasarnya berada di tepi jalan dekat sekolahan dan lapangan. Para pedagang menggelar dagangannya di tepi jalan. Mereka mulai berjualan setelah shalat shubuh sampai kira-kira jam 09.00 wib. Di pasar templek ada banyak barang dagangan, terutama kebutuhan dapur. Mulai dari bumbu masak, alat dan bahan memasak, ikan, sayuran, dan lain sebagainya.
Saat saya masih kecil sampai dewasa, ibu sering masak sayur-sayuran dan lauk pauk. Terkadang masakan itu tidak habis dalam hari, terkadang bisa dua sampai tiga hari. Saya ambil contoh masakan kacang panjang. Kalau satu hari tidak habis, maka akan dipanasai lagi, dipanasi lagi. Dipanasi berulang kali ini membuat aroma dan rasanya yang berbeda. Bumbunya semakin meresap dan rasanyapun semakin enak, lezat, dan mantap.
Inilah blendrang, masakan sayuran yang dipanasi berulang kali. Kiranya kita sebagai orang desa sering memakan blendrang. Mungkin banyak kenangan yang masih kita ingat. Saat akan berangkat ke sekolah atau pulang sekolah. Tidak jarang orangtua kita menyediakan masakan nasi dengan sayur blendrang. Sampai sudah saat dewasa pun kita masih sering makan sayuran blendrang.
PENGALAMAN
Sampai saat ini saya belum masak sampai mblendrang. Karena bisanya mungkin hanya masak mie dan membuat sambel. hehehe. Namun, saya mempunyai pengalaman menikmati makan blendrang. Seingat saya, suatu saat ngenget/ manasi sayuran sampai aromanya menyengat. Ngenget di atas kompor gas, kemudian ditinggal melakukan sesuatu. Mungkin karena lupa sampai sayurnya asat, dan apa yang terjadi? Sayurnya menjadi asat dan baunya gosong, dan benar-benar gosong. Sehingga, kalau dimakan pas yang gosong rasanya pahit. hehehe.
Ada lagi suatu saat telat ngenget sayur. Sudah beberapa kali dipanasi ternyata lupa waktunya terlalu lama. Mau makan dan akan mengambil sayur, akan tetapi sayurnya terlanjur mambu. Karena waktunya sudah makan, mau tidak mau tetap makan. Agar nasi tetap adanya rasanya, maka sayur yang mambu tadi diambil kuahnya saja, ampasnya ditinggalkan.
KESAN
Memakan masakan yang kemarin atau blendrang memiliki sensasi tersendiri. Saat dimakan bersamaan dengan nasi yang punel, maka lidah akan terasa ingin makan terus-menerus. Makannya dengan nasi yang anget dan minumnya kopi panas atau teh anget. Selera makan akan meningkat dengan semakin meresapnya bumbu. Lidah akan terus bergoyang dengan blendrang yang pedas. Mungkin kita yang di pedesaan sering makan blendrang. Alasan kita simpel, sayang kalau sayur yang masih enak dibuang. Sehingga, yang sering kami lakukan ialah ngenget setiap hari agar terus enak dimakan sampai habis.
Kami pikir dan kami rasakan. Blendrang mempunyai sesnsasi tersendiri dari sejak dulu, sekarang hingga esok. Blendrang mempunyai ciri khas tentang cita rasa. Apalagi kita yang hidup pas-pasan, memakan masakan yang sudah beberapa hari sudah menjadi terbiasa. Mungkin kita mempunyai keyakinan, bahwa makan makanan yang kemarin tetap dapat menghilangkan rasa lapar pada diri kita. Dengan kita memiliki keyakinan, klau kita makan dengan secukupnya, InsyaAllah kita selalu dijaga oleh Allah swt. Sehingga, Allah swt jauhkan kita dari berbagai macam penyakit.

Mantab heheh
ReplyDeleteTop
ReplyDelete