TAMAN

 TAMAN GLUGUT

Oleh : Barit Fatkur Rosadi

Rabu, 12 Agustus 2020. Saya, Istri, dan anak-anak masih berada di rumah orang tua di Karanggayam, Segoroyoso, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Rumah kami berada di desa yang dekat dengan pegunungan dan sungai (kali opak). Lingkungan kami sudah padat dengan rumah penduduk. Bangunan rumah yang sederhana dan tidak terlalu besar. Bangunan rumah yang sederhana mungkin saja juga menggambarkan kesederhaan penduduk.

Mengisi waktu di siang hari saya, istri, dan anak-anak jalan-jalan di sekitar rumah. Kami sempatkan main ke sebuah tempat. Mungkin sekitar dua tahun yang lalu tempat ini sempat ramai. Namun, seiring berjalannya waktu tempat ini menjadi sepi. Tempatnya sangat sejuk, karena berada di tepi sungai dan banyak pohon bambu di sekitar. Karena banyaknya berbagai jenis pohon bambu, lokasi tersebut dinamakan “Taman Glugut.” Glugut ialah berasal dari bahasa jawa yang artinya suatu bagian dari pohon bambu yang sangat kecil, berwarna hitam, dan menempel pada kulit luar dari batang bambu tersebut.

Kita dapat menuju lokasi taman glugut dari arah terminal bus Giwangan Yogyakarta. Dari sana kita ke arah selatan sekitar 5 km (melalui jalan Imogiri Timur). Di situ ada trafic light dan pasar jejeran. Kita lurus ke arah selatan sekitar 500 m terus belok kiri. Di situ kita nanti sudah menemui papan nama untuk menuju arah lokasi.

Kami berada di taman glugut yang sebelah timur sungai. Banyak tempat dan mainan yang dapat digunakan untuk bersantai. Kita bisa duduk di tempat duduk yang terbuat dari kayu yang berada di bawah pohon. Kita juga bisa duduk santai di gazebo sederhana yang telah disediakan. Untuk permainan anak yang masih dapat digunakan diantaranya adalah ayunan dengan berbagai model, jungkat-jungkit, dan lain sebagainya.

 

Dari beberapa permainan yang masih dapat kita gunakan, ada beberapa permainan yang juga sudah kelihatan kurang terawat. Disana penulis melihat papan nama ATV dan Flaying fox. Akan tetapi, saat penulis berada disana sudah tidak melihat. Permainan seperti komedi putar juga kelihatan mangkrak. Alat permainan tradisional, seperti egrang juga ada. Tempat selfie di atas pohon ori juga kelihatan sudah rusak dan tidak terawat lagi. Perahu wisata pun nampak diam tercancang tali di tepian sungai. Warung-warung yang berjajar nampak sudah tidak terawat lagi.

Namun, sebagai masyarakat kita harus berusaha untuk melestarikan dan memanfaatkan alam sekitar. Di taman glugut kita masih dapat melihat orang yang menyeberang dengan memanfaatkan fasilitas perahu. Kita masih melihat pengelola memperbaiki fasilitas yang ada. Jika kita datang di sana pada waktu shalat, di sana disediakan surau/langgar/musholla. Jika kita ingin buang air kecil atau buang air besar, disana pengelola menyediakan toilet. Jika para pengunjung ingin berfoto sendiri atau bersama, disana juga banyak tempat untuk berfoto. Kita dapat berfoto dengan latar belakang sungai, pohon ori, atau yang lainnya. Semoga tempat ini dapat eksis kembali.

Sebagai rasa syukur kita kepada Allah swt untuk senantiasa menikmati ciptaan-Nya. Allah swt ciptakan alam semesta ini agar kita dapat mengambil hikmahnya. Agar kita senantiasa bisa mempelajari sedikit demi sedikit akan ayat-ayat kauniyahnya. Air, angin, tanaman, hewan, dan lain sebagainya yang ada di sekitar kita, dapat kita jadikan perantara kita untuk senantiasa mengingat Sang Pencipta-Nya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, Allah swt. Allah Maha Besar atas segala ciptaan-Nya. Kita sebagai khalifah di bumi agar senantiasa menjaga alam agar tetap seimbang.


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

MY LITTLE STORY WITH SHOGUN

Memberanikan Merangkai Kata

MENUTUP JALAN UMUM