Pokoke Nulis
POKOKE NULIS
Oleh : Barit Fatkur Rosadi
Senin malam selasa, 12 Oktober 2020. Ada satu kegiatan pada malam hari itu. Pertemuan sederhana via zoom. Beliau Bapak Ngainun Naim, senantiasa memberikan spirit kepada kita agar tetap belajar menulis. Beliau rela menyempatkan waktunya untuk membagikan ilmunya secara ikhlas lillahi ta'ala.
Di dalam pertemuan itu merupakan gabungan dari teman-teman SPK dan Ma'arif Menulis. Kelompok kecil ini diberikan kesempatan oleh beliau untuk menyampaikan sepatah dua patah kata. Sesuatu yang disampaikan ini terkait dengan grup menulis. Baik itu keluh kesah, pengalaman, atau kritik dan saran untuk membangun dan menghidupkan kegiatan menulis.
Saya cukup menyimak. Kalau saya tidak salah mendengar, di menit-menit akhir obrolan itu, bapak Ngainun Naim menceritakan seseorang. Kalau tidak salah ia sudah memiliki sekitar dua belas ribu tulisan di blog. Secara kulaitas sebenarnya ya bisasa-biasa saja "katanya". Akan tetapi, pokoke menulis. Suatu ketika ia diajak belanja ke pasar oleh istrinya. Ia membawa handphone, disitu pula ia sempatkan untuk menulis.
Inilah yang menjadikan ia berbeda dengan orang lain. Saat akan menulis, ya menulis saja. entah tulisannya baik atau kurang baik, bermutu atau kurang bermutu, ya cuek saja. Seandainya ada orang yang membaca di tulisan blog kita, itu sudah lumayan. Pokoke nulis.
Belajar dari situ, kita hendaknya dapat berfikir. Setiap kita telah dianugerahi Allah swt berbeda dengan orang lain. Semisal tulisan kita judulnya sama dengan orang lain, belum tentu penjabarannya itu sama. Kita berusaha tetap percaya diri dengan karya kita sendiri. belajar menuangkan ide dalam sebuah tulisan.
Pertemuan malam itu memang cukup singkat. Saya masih malu untuk menampakkan diri di layar. hehe. Malu atau belum bisa zoom lewat note book ya? Saya nya yang belum menguasai zoom? atau notebooknya yang tidak bisa menampilkan gambar saya? wkwkwk. Yang terpenting adalah saya bisa mendengarkan kata-kata motivasi agar tetap dapat menulis, walaupun hanya lima paragraf.
Lima paragraf perlu kita coba, tidak hanya satu atau dua kali. Namun kita berusaha melakukannya berkali-kali. Walaupun tulisan ini alurnya mungkin kurang mengalur, kita ikuti saja alurnya agar tetap mengalir. Karena aliran ini kita butuhkan untuk menjaga semangat agar tetap terus berkarya.
Ucapan terimakasih kepada bapak Ngainun Naim yang sabar dan ikhlas membimbing kita. Kepada teman-teman yang berusaha terus menulis. Mari kita belajar bersama, bersama beliau merupakan sebuah pertemuan yang indah. Apa yang kita mau sudah diajangi sama beliau. Sampai seandainya kita banyak tulisan dan ingin mencetak, namun belum ada biaya, beliau juga siap untuk memfasilitasinya. Subhanallah. Semoga pak Ngainun Naim selalu diberikan kesehatan. Aamiiin.

Comments
Post a Comment