KEISTIMEWAAN IBU
KEISTIMEWAAN IBU
Oleh : Barit Fatkur RosadiSetiap orang yang menikah mempunyai do'a dan harapan yang besar. Salah satu do'a yang mereka panjatkan ialah agar segera memiliki keturunan. Namun, adakalanya do'a tersebut cepat dikabulkan, ada pula yang bertahun-tahun belum diijinkan oleh Allah untuk diamanahi keturunan. Entah apa skenario Sang Pencipta? Karena hanya Allah swt semata yang Maha Tahu.
Diantara teman saya yang sudah menikah lumayan lama ada yang belum dikarunia anak. Ada juga saudara yang sudah lama menikah juga belum dikaruniai anak. Betapa mereka merindukan kehadiran keturunan yang akan meneruskan perjuangan orangtuanya kelak.
Kita terlahir dari perantara rahim seorang ibu. Seorang ibu sangat berharap kelak anaknya menjadi anak-anak yang taat dan berbhakti, sholih, sholihah, sukses dunia dan akhirat.
Beruntung bagi anak-anak yang dilahirkan dari rahim ibu yang taqwa kepada Allah swt. Karena kita tahu filsafat jawa "kacang manut lanjaran". Artinya sifat dan sikap seorang anak tidak jauh dari orangtuanya. Beruntung pula seorang ibu yang diamanahi Allah untuk menjadi perantara lahirnya anak-anak yang sholih dan sholihah.
Penulis mempunyai keyakinan. Orangtua kita sangat bahagia memiliki anak-anak yang sholih dan sholihah. Meskipun bisa dikatakan secara ekonomi pas-pasan. Keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah, wabarokah. Hal ini dapat membuat kebahagiaan hati tentram. Kalau keimanan dan ketaqwaan telah mendarah daging, maka segala sesuatunya akan senantiasa terasa indah.
Melalui pengamatan pribadi penulis. Seorang ibu yang sejak mengandung-melahirkan-menyusui-mengasuh-membesarkan. Proses yang begitu panjang sangat besar perjuangan seorang ibu. Do'a ibu, semoga anaknya kelak dapat berbhakti kepada orangtuanya. Namun, kita juga sering melihat anak-anak zaman sekarang yang seharusnya merawat orangtuanya, na'udzubillah, malah anak sampai dewasa tetap dirawat orangtuanya.
Suatu hal yang lebih miris kalau kita melihat banyak anak-anak yang sukanya mabuk-mabukan, tawuran, dan lain-lain. Kapan akan berbhakti dan menjadi anak yang dibanggakan orantuanya? Wallahu a'lam, semoga anak-anak kita senantiasa mendapat lindungan Allah swt. Aamiiin.
Rasulullah SAW bersabda,
الْوَالِدُ
أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ
احْفَظْهُ
Artinya: "Orangtua adalah pintu
surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa
menjaganya."(HR. Tirmidzi).
Kita juga meyakini bahwa ridlo-Nya Allah swt itu tergantung dari ridlo kedua orangtua kita. Di dalam Islam, ibu memiliki keistimewaan dan kemuliaan yang tak terhingga. Bahkan Islam
menempatkan posisi ibu begitu indah dan tinggi di mata manusia.
"Sampai-sampai Nabi Muhammad SAW
menyebut tiga kali ketika ditanya posisi ibu di mata anak dalam konteks
berbhakti, sebagai bukti keistimewaan ibu di mata Allah," ucapnya.
Nabi Muhammad SAW bersabda,
جَاءَ
رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ «
أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ
أَبُوكَ »
Artinya: "Seorang pria pernah
mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari
kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian
siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia
berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam
mengatakan, ‘Ayahmu’."(HR. Bukhari dan Muslim).
Selain itu terdapat keberkahan di dunia,
anak berbakti kepada ibu juga dimudahkan dalam urusan dunia hingga akhirat,
hingga jaminan surga kelak di akhirat bagi anak yang senantiasa selalu
berbakti.
Allah SWT berfirman:
وَوَصَّيْنَا
الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ
فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Artinya: "Dan Kami perintahkan
kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam
dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya
kepada-Kulah kembalimu." (QS. Luqman: 14)
Namun demikian, selain ibu seorang ayah
juga punya peranan penting yang tidak kalah dari ibu, tetapi konteks hadist di
atas adalah bentuk birrul walidain atau suatu pengabdian kepada ibu yang sangat
kita kagumi.
Otomatis ayah juga berada diposisi yang harus kita hormati dan sayangi. Begitulah Islam meletakkan sendi-sendi yang sangat sederhana, namun besar kaidah dan hikmah penghormatan tersebut. Tanpa ibu kita tidak berarti apa-apa, tanpa ibu banyak anak kehilangan cinta, tanpa ibu kita menjadi anak-anak tanpa ruh cinta dan kasih sayang serta kering dan kurang berarti.
Kapan kita dapat membalas jasa ibu kita? mungkin kita tidak pernah bisa membalasnya. Disaat kita masih dalam kandungan, kita selalu mengikuti kemana langkah kakinya bergerak. Ibu ke sawah, otomatis kita juga merasakan pergi ke sawah, ibu pergi ke masjid, kita juga mengikutinya, dan seterusnya
Saat kita terlahir ke dunia belum bisa apa-apa. Kita makan, minum, mandi, berpakaian selalu ibu yang mengerjakannya. Diistirahat malamnya kita ngompol ibu-lah yang menggantikan popoknya. Bayi nangis kehausan ibul-ah yang meminumkan ASI nya. Ibu tidak pernah minta upah kepada anak-anaknya atas apa yang telah dilakukannya. Karena semua adalah atas amanah dari Allah swt.
Seorang ibu sungguh manusia yang istimewa. Dibalik fisiknya yang lembut, bisa jadi hatinya lebih lembut lagi. Kesabaran dan keuletannya dalam membesarkan anak-anaknya memiliki nilai tak terhingga. Kegiatan itu dilakukannya setiap waktu, tiada henti sepanjang waktu.
Disetiap usai shalat kita panjatkan do'a untuknya ibu. Hanya do'a yang bisa kita sampaikan. "Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil." Aamiiin.
Wallahu A'lam Bish Shawab.

Comments
Post a Comment