Momentum di Tanggal Lahirku
Momentum di Tanggal Lahirku
Tanggal 14 Januari merupakan tanggal lahir saya sesuai kalender. Alhamdulillah tidak terasa umur saya pada tahun ini sudah genap 33 tahun. Kalau bercermin dari usia Rasulullah saw berarti sudah separuhnya. Amal apa yang telah saya lakukan? banyak baiknya atau buruknya? Wallahu a'lam bisshawab. Sebagai manusia biasa hanya bisa berikhtiyar menjadi lebih baik. Jika sesekali berbuat dosa, mungkin sebagai teguran untuk bisa berdzikir dan beristighfar kepada Sang Maha Pencipta. Karena kita manusia tempatnya salah dan lupa.
Untuk menjadi orang yang beruntung hendaknya kita selalu berinstropeksi diri. Berdzikir dan bermunajat kepada Allah swt, agar kita selalu mendapat perlindungan-nya. Mungkin kita memiliki motto "hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik daripada hari ini." Motto ini bisa kita jadikan sebuah motivasi diri kita untuk senantiasa mengembangkan diri lebih baik.
Pada momentum tanggal lahir, kita biasanya mendapatkan ucapan selamat. Ucapan itu bisa berasal dari istri, suami, anak-anak, adik, kakak, ayah, ibu, rekan kerja, dan seterusnya. Ucapan selamat ulangtahun ini bisa kita jadikan pengingat dan juga do'a dari orang-orang yang berada di sekitar. Ucapat selamat ini dapat menjadikan hidup kita lebih hidup dan berarti.
Beberapa peristiwa yang ingin saya tulis di tanggal kehairan saya tahun ini adalah sebagai berikut: Pertama : Agenda "Bimtek" yang diagendakan kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulungagung. Yaitu bimtek tentang "Pembekalan Penyusuna Soal Ujian Madrasah Tahun 2021 Berbasis Literasi Numerasi (secara daring)." Kegiatan ini dilaksanakan dua hari. Kamis, 14 Januari 2021 numerasi mi oleh : Dr. Endah Budi Rahaju. Dan hari Sabtu, 16 Januari 2021, Literasi mi oleh : Dr. Titik Harsiati.
Setelah diadakan bimtek ini, harapan secara umumnya adalah semua guru mampu membuat soal literasi-numerasi. Soal-soal hasil bimtek akan divalidasi oleh guru inti dan dimasukkan dalam bank soal. Disamping itu, guru memiliki peran yang sangat penting untuk menumbuhkan semangat literasi kepada peserta didik. Memberikan stimulus kepada siswa agar minat bacanya muncul sejak dini.
Momentum kedua adalah wafatnya Syekh Ali Jaber diusia 44 tahun. Beliau adalah pendakwah dan ulama berkewarganegaraan Indonesia. Ia juga menjadi juri pada Hafiz Indonesia dan menjadi da'i dalam berbagai kajian di berbagai stasiun televisi nasional.
Ali Jaber telah menekuni membaca Al-Qur'an sejak kecil. Ayahnyalah yang awalnya memotivasi Ali Jaber untuk belajar Al-Qur'an. Dalam mendidik agama, khususnya Al-Qur'an dan shalat, ayahnya sangat tegas, bahkan tidak segan-segan memukul bila Ali Jaber kecil tidak menjalankan shalat. Keluarganya dikenal sebagai keluarga yang religius. Di Madinah ia memiliki masjid besar yang digunakan untuk syiar Islam. Sebagai anak pertama dari dua belas bersaudara, Ali Jaber dituntut untuk meneruskan perjuangan ayahnya dalam syiar Islam.
Meski pada awalnya apa yang ia jalani adalah keinginan sang ayah, lama-kelamaan ia menyadari itu sebagai kebutuhannya sendiri dan pada usia sebelas tahun, ia telah hafal 30 juz Al-Qur'an.
Syekh Ali Jaber meninggal dunia pada hari Kamis, 14 Januari 2021 pukul 08.30 WIB dalam keadaan negatif COVID-19 di RS YARSI, Cempaka Putih, Jakarta. Sebelumnya, Ali Jaber pernah disebut positif COVID-19, namun telah sembuh saat dinyatakan wafat.
Mungkin masih banyak momentum ditanggal tersebut. Akan tetapi, saya tidak bisa menulisnya semua. Sebagai refleksi diri untuk dijadikan pengingat. Bahwa usia kita berapa. Kita tidak akan pernah tahu, karena semua itu adalah hak priogatif Allah swt. Terima kasih atas seluruh do'a-do'anya. Semoga ke depan dapat lebih baik dan bermanfaat.
Wallahu A'lam Bisshawab.

Comments
Post a Comment