Titik

TITIK

Oleh : Barit Fatkur Rosadi


Media sosial banyak memberikan kita informasi, pengetahuan, hiburan, dan lains sebagainya. Kita memiliki kebijakan penuh terhadap apa yang kita dapatkan dari informasi itu. Kita harus berhati-hati dalam mensikapinya. Banyak hal yang kita inginkan, jari kita tinggal mengetik, kemudian langsung muncul. Semoga kita dapat memanfaatkan media sosial dengan baik.        

Hidup manusia ibarat sebuah perjalanan panjang menuju suatu titik (tujuan) tertentu. Oleh karena itu, setiap manusia perlu tahu tujuan hidupnya. Atau lebih tepatnya tahu dari mana ia berasal, untuk apa diciptakan, dan ke mana akhir dari hidupnya. Perjalanan tak selalu melewati jalan datar dan mulus. Tapi terkadang, harus melalui onak duri, batu-kerikil, dan lembah-jurang.

Untuk itulah, dalam melakoni perjalanan, dibutuhkan bekal yang lengkap dan memadai. Tidak hanya bekal makanan dan minuman yang cukup, sarana perjalanan atau kendaraan yang layak, juga mental dalam menghadapi gangguan dan rintangan, ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi kendala dan masalah, serta kebulatan tekad untuk benar-benar sampai tujuan.

Dalam Islam, titik akhir perjalanan manusia adalah akhirat. Di akhirat sendiri ada dua kehidupan, yaitu kehidupan yang baik (menyenangkan) dan kehidupan yang buruk (sengsara). Untuk meraih kehidupan yang pertama tidaklah mudah. Dibutuhkan keimanan, ketaatan, laku ibadah, bersedekah, berbuat baik dengan tetangga, menegakkan keadilan, dan masih banyak lagi. Kita juga harus mampu mengekang hawa nafsu, menahan berbuat dosa dan maksiat, tahan uji, menjauhi kesenangan duniawi, dan lain-lain. sedangkan untuk masuk ke kehidupan jenis kedua, amatlah mudah.

Perjalanan Ke Luar

Sebagian besar manusia lebih banyak melakukan perjalanan ke luar (diri). Kita telah teramat jauh dari fitrah manusia, dari diri yang sejati. Kita telah jauh pergi ke hilir dan meninggalkan hulu. Kita sudah amat jauh meninggalkan sumber asal-muasal kita.

Kita telah terlalu disibukkan oleh urusan-urusan duniawi. Kita terlampau menuruti hawa nafsu. Kita terlalu sibuk mencari dan mengumpulkan sesuatu yang bukan kebutuhan dan bekal kita yang sebenarnya. Kita telah terlena, mengikuti arus, bahkan hanyut oleh kesenangan, kemewahan, dan juga kepalsuan.

Kita memperlakukan diri kita tak lebih sebagai obyek semata, sebuah benda, yang tanpa ruh, tanpa spirit. Kita memuaskan kenikmatan ragawi. Kita memanjakan kesenangan tubuh fisik. Kita pun berlomba-lomba mengejar kemewahan dunia.  

Kita sering lupa, bahwa di dalam tubuh kita ada jiwa, ada ruh, yang perlu juga untuk diperhatikan, dirawat, diberi makanan dan gizi. Semakin jauh kita melakukan perjalanan ke luar, semakin kita tidak mengenal diri, semakin lupa akan pemilik diri. Kita terpisah dari diri kita yang utuh dan tunggal. Akibatnya, kita akan merasa terasing, pangling, dan tentunya tidak bahagia.

Perjalanan Ke Dalam

Yang sudah terlampau jauh ke hilir, mari kembali ke hulu. Yang sudah terbawa arus bahkan hanyut, ayo kembali pulang. Lakukanlah dengan sekuat tenaga, walau harus melawan arus, walau harus melewati sampah, ranting, tanaman air, bebatuan. Berjuanglah dan lawanlah. Untuk mudik, kembali ke udik, kembali ke sangkan paraning dumadi (ke asal-usul yang sejati).

Seperti ikan salmon, yang dengan bersemangat melawan arus untuk kembali ke hulu. Sebab ia telah lama meninggalkan hulu, terlena oleh kemilau dunia luar, terlalu asyik menikmati kesenangan di daerah rantau. Dengan tekad baja, ia ingin kembali ke tanah kelahirannya, kembali ke pangkuan nenek-moyangnya, kembali menjadi dirinya sendiri.

Perjalanan ke dalam dapat kita lakukan dengan berdzikir, muhasabah, muraqabah, tadabur. Perjalanan ini akan memberi kesadaran diri dan alam semesta, dan juga kesadaran akan Sang Pencipta. Kesadaran bahwa diri ini adalah makhluk spiritual.

Perjalanan ke dalam merupakan kunci kebahagiaan, kedamaian, dan keselamatan. Di titik inilah kita akan berhenti. Kita akan kembali ke hadapan Illahi Robbi. Kalau sudah berada di titik, kita tidak akan bisa berbuat sesuatu. Kita akan menerima buku catatan yang telah kita lukiskan di masa lampau. Kita tidak bisa mengelak dengan alasan apapun. Kita hanya bisa menerima.

Wallahu A'lam Bishshawab.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

MY LITTLE STORY WITH SHOGUN

Memberanikan Merangkai Kata

MENUTUP JALAN UMUM