Titik
TITIK
Media sosial banyak memberikan kita informasi, pengetahuan, hiburan, dan lains sebagainya. Kita memiliki kebijakan penuh terhadap apa yang kita dapatkan dari informasi itu. Kita harus berhati-hati dalam mensikapinya. Banyak hal yang kita inginkan, jari kita tinggal mengetik, kemudian langsung muncul. Semoga kita dapat memanfaatkan media sosial dengan baik.
Hidup manusia ibarat
sebuah perjalanan panjang menuju suatu titik (tujuan) tertentu. Oleh karena
itu, setiap manusia perlu tahu tujuan hidupnya. Atau lebih tepatnya tahu dari
mana ia berasal, untuk apa diciptakan, dan ke mana akhir dari hidupnya. Perjalanan
tak selalu melewati jalan datar dan mulus. Tapi terkadang, harus melalui onak
duri, batu-kerikil, dan lembah-jurang.
Untuk itulah, dalam
melakoni perjalanan, dibutuhkan bekal yang lengkap dan memadai. Tidak hanya
bekal makanan dan minuman yang cukup, sarana perjalanan atau kendaraan yang
layak, juga mental dalam menghadapi gangguan dan rintangan, ketabahan dan
kesabaran dalam menghadapi kendala dan masalah, serta kebulatan tekad untuk
benar-benar sampai tujuan.
Dalam Islam, titik
akhir perjalanan manusia adalah akhirat. Di akhirat sendiri ada dua kehidupan,
yaitu kehidupan yang baik (menyenangkan) dan kehidupan yang buruk (sengsara).
Untuk meraih kehidupan yang pertama tidaklah mudah. Dibutuhkan keimanan,
ketaatan, laku ibadah, bersedekah, berbuat baik dengan tetangga, menegakkan
keadilan, dan masih banyak lagi. Kita juga harus mampu mengekang hawa nafsu,
menahan berbuat dosa dan maksiat, tahan uji, menjauhi kesenangan duniawi, dan
lain-lain. sedangkan untuk masuk ke kehidupan jenis kedua, amatlah mudah.
Perjalanan Ke Luar
Sebagian besar
manusia lebih banyak melakukan perjalanan ke luar (diri). Kita telah teramat
jauh dari fitrah manusia, dari diri yang sejati. Kita telah jauh pergi ke hilir
dan meninggalkan hulu. Kita sudah amat jauh meninggalkan sumber asal-muasal
kita.
Kita telah terlalu
disibukkan oleh urusan-urusan duniawi. Kita terlampau menuruti hawa nafsu. Kita
terlalu sibuk mencari dan mengumpulkan sesuatu yang bukan kebutuhan dan bekal
kita yang sebenarnya. Kita telah terlena, mengikuti arus, bahkan hanyut oleh
kesenangan, kemewahan, dan juga kepalsuan.
Kita memperlakukan
diri kita tak lebih sebagai obyek semata, sebuah benda, yang tanpa ruh, tanpa
spirit. Kita memuaskan kenikmatan ragawi. Kita memanjakan kesenangan tubuh
fisik. Kita pun berlomba-lomba mengejar kemewahan dunia.
Kita sering lupa,
bahwa di dalam tubuh kita ada jiwa, ada ruh, yang perlu juga untuk
diperhatikan, dirawat, diberi makanan dan gizi. Semakin jauh kita melakukan
perjalanan ke luar, semakin kita tidak mengenal diri, semakin lupa akan pemilik
diri. Kita terpisah dari diri kita yang utuh dan tunggal. Akibatnya, kita akan
merasa terasing, pangling, dan tentunya tidak bahagia.
Perjalanan Ke Dalam
Yang sudah terlampau
jauh ke hilir, mari kembali ke hulu. Yang sudah terbawa arus bahkan hanyut, ayo
kembali pulang. Lakukanlah dengan sekuat tenaga, walau harus melawan arus,
walau harus melewati sampah, ranting, tanaman air, bebatuan. Berjuanglah dan
lawanlah. Untuk mudik, kembali ke udik, kembali ke sangkan paraning dumadi (ke asal-usul
yang sejati).
Seperti ikan salmon, yang dengan bersemangat melawan arus untuk kembali ke hulu. Sebab ia telah lama meninggalkan hulu, terlena oleh kemilau dunia luar, terlalu asyik menikmati kesenangan di daerah rantau. Dengan tekad baja, ia ingin kembali ke tanah kelahirannya, kembali ke pangkuan nenek-moyangnya, kembali menjadi dirinya sendiri.
Perjalanan ke dalam
dapat kita lakukan dengan berdzikir, muhasabah, muraqabah, tadabur. Perjalanan
ini akan memberi kesadaran diri dan alam semesta, dan juga kesadaran akan Sang
Pencipta. Kesadaran bahwa diri ini adalah makhluk spiritual.
Perjalanan ke dalam merupakan kunci kebahagiaan, kedamaian, dan keselamatan. Di titik inilah kita akan berhenti. Kita akan kembali ke hadapan Illahi Robbi. Kalau sudah berada di titik, kita tidak akan bisa berbuat sesuatu. Kita akan menerima buku catatan yang telah kita lukiskan di masa lampau. Kita tidak bisa mengelak dengan alasan apapun. Kita hanya bisa menerima.
Wallahu A'lam Bishshawab.

Terima kasih ustadz
ReplyDelete