DZIKIR GEMPA
DZIKIR GEMPA
Oleh : Barit Fatkur RosadiBelum usai negeri ini diuji oleh Allah SWT dengan banjir bandang Adonara, Flores, NTT. Allah SWT berikan peringatan kepada kita sebagai makhluk khalifatu fil ardhi. Salah satu tugas kita sebagai manusia adalah menjaga bumi dan alam seisinya. Supaya kita selalu ingat kepada Sang Maha Pencipta Segalanya. Bahwa adanya alam seisinya ini ada yang menciptakan. Kita ingat Allah SWT tidak hanya sesaat. Akan tetapi, kita harus berusaha dengan semaksimal mungkin mengingat-Nya kapanpun dan dimanapun.
Gempa bumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak bumi. Akumulasi energi penyebab terjadinya gempa bumi dihasilkan dari pergerakan lempeng-lempeng tektonik. Energi yang dihasilkan dipancarkan kesegala arah berupa gelombang gempa bumi, sehingga efeknya dapat dirasakan sampai ke permukaan bumi.
Gempa bumi merupakan salah satu fenomena alam yang senantiasa menghiasai lembaran sejarah kehidupan manusia. Pada hari Sabtu 10 April 2021 M atau 27 Sya'ban 1442 H, 14:00:15 terjadi gempa bumi yang menurut BMKG, Mag : 6,7, Lok : 8.95 LS, 112.48 BT (90 km Barat Daya Kab. Malang) kedalaman 25 km, tidak berpotensi tsunami, #BMKG. Keluarga kami yang berada di Ds. Gombang, Pakel, Tulungagung merasakan goncangan yang cukup keras. Sehingga keluarga kami dan tetangga juga ramai-ramai keluar rumah. Di samping itu, saya juga sempat mendengar suara kentongan. Atau di masyarakat disebut titir, ini menunjukkan suara kentongan yang menunjukkan adanya sesuatu hal yang tidak biasa, seperti ada gempa bumi/ lindu, angin puting beliung, angin yang sangat kencang, dan lain sebagainya.
Ada empat ayat Al-Qur'an yang mengungkapkan dua kali kasus gempa bumi dalam kurun waktu berbeda di masa lampau, yang meluluhlantahkan negeri dan umat yang ditimpanya. Tidak kurang dari kedahsyatan kasus gempa bumi yang terjadi saat ini.
Dua dari empat ayat yang mengungkapkan kasus gempa itu terdapat dalam surat Al-A'raf dengan lafaz yang sama, masing-masingnya ayat 78 tentang kasus gempa yang menimpa umat Nabi Shaleh:
فَأَخَذَتْهُمُ ٱلرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا۟ فِى دَارِهِمْ جَٰثِمِينَ
“Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.”
Dan ayat 91 di surat yang sama yang menunjuk kasus gempa yang dialami umat Nabi Syuaib. Firman Allah SWT:
فَأَخَذَتْهُمُ ٱلرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا۟ فِى دَارِهِمْ جَٰثِمِينَ
''Lalu, mereka dibinasakan oleh gempa bumi sehingga pagi harinya mereka bergelimpangan dalam rumahnya.''
Tidak jauh beda dari kedua ayat di atas, surat Hud ayat 67 kembali menunjuk kasus gempa yang menimpa umat Nabi Shaleh. Firman-Nya:
وَأَخَذَ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ ٱلصَّيْحَةُ فَأَصْبَحُوا۟ فِى دِيَٰرِهِمْ جَٰثِمِينَ
''Dan, orang-orang yang aniaya itu ditimpa suara gemuruh, lalu mereka bergelimpangan dalam rumahnya.''
Kemudian Surat Al-'Ankabut ayat 37 mengungkapkan kasus gempa yang dialami umat Nabi Syuaib. Firman-Nya:
فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَتْهُمُ ٱلرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا۟ فِى دَارِهِمْ جَٰثِمِينَ
''Lalu mereka mendustakannya (Syuaib), kemudian mereka disiksa dengan gempa raya, lalu di pagi hari mereka bergelimpangan dalam rumahnya.''
Empat ayat Al-Qur'an di atas selayaknyalah mengundang manusia (terutama Muslim) agar melirik kasus gempa sebagai sebuah 'ibrah (pelajaran). Paling tidak, ada tiga hal yang dapat dilihat.
Pertama, kasus gempa bumi bukan hanya terjadi sekarang, melainkan telah terjadi di masa lampau dan mungkin akan terjadi lagi di masa datang.
Pengetahuan seperti itu membuka peluang kepada manusia untuk meningkatkan kehati-hatian dan bahkan mendeteksi saat-saat akan terjadinya gempa sebagai upaya menghindari bahaya yang lebih fatal.
Kedua, gempa bumi mutlak terjadi atas kehendak Yang Maha Kuasa (Allah SWT). Kendati menurut teori para ahli dan ilmuwan disebabkan gunung meletus atau pergeseran lempeng bumi dan sebagainya, semua itu tidak lain dari kehendak-Nya. Gempa bumi terjadi di luar kemampuan manusia atau makhluk lainnya.
Ketiga, kasus gempa bumi di zaman Nabi Shaleh dan Nabi Syuaib ternyata berhubungan dengan sikap umat yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya. Hal ini bukan hanya membuat kita terpukul oleh musibah gempa, melainkan juga mengharuskan kita melakukan koreksi diri.
Pertanyaannya, dosa apa yang telah kita lakukan sehingga Allah SWT Yang Maha Kuasa menakdirkan terjadinya gempa yang menghancurkan kota dan desa serta menewaskan manusia banyak?
Sebagai manusia lemah kita semua mutlak berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Harapan kita, gempa bumi yang telah terjadi dapat dilalui dengan penuh kesabaran dan menjadi sebuah bahan koreksi diri. Berlindung kita kepada-Nya dari sifat berputus asa dari rahmat-Nya.
Rasulullah SAW: ''Umatku ini dirahmati Allah dan tidak disiksa di akhirat, akan tetapi siksaan mereka di dunia berupa fitnah-fitnah, gempa bumi, peperangan, dan musibah-musibah.'' (HR Abu Daud).
Wallahu A'lam Bisshawab.

Comments
Post a Comment