Nyadran Karanggayam
NYADRAN KARANGGAYAM
Oleh : Barit Fatkur Rosadi
Tradisi Nyadran atau biasa disebut dengan Sadranan adalah sebuah tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Islam Jawa, terutama sebagian besar masyarakat Jawa Tengah. Nyadran berasal dari bahasa sansekerta Sraddha yang berarti Keyakinan, dalam bahasa jawa nyadran berasal dari kata Sadran yang artinya ruwah, sya'ban. Tradisi Nyadran atau sadranan ini biasanya dilakukan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan, yakni berupa seranngkaian upacara Ziarah kubur, berseh atau membersihkan makam dan mendoakan arwah leluhur atau kerabat yang sudah meninggal.
Kamis, 1 April 2021 saya mengikuti kegiatan Semaan Al Qur'an bin-nadhor di Masjid Karanggayam, Segoroyoso, Pleret, Bantul. Disela-sela kegiatan, saya berbincang-bincang dengan salah satu tokoh. Kita bercerita tentang kegiatan nyadran. Kebiasaan sebelum adanya wabah Corona, kegiatan dilaksanakan dengan semaan Al Qur'an dengan mengundang Hafizh (penghafal Al-Qur'an). Karena satu makam itu digunakan beberapa dusun, maka menjelang kegiatan sadranan dilaksanakan panitia berkoordinasi terlebih dahulu.
Kegiatan dimasa normal, kegiatan dilakukan di dekat makam dengan mempersiapkan tempat, tenda, soundsystem, dan lain sebagainya. Kegiatannya bisa tahlilan, pengajian, dan seterusnya. Semisal, Semaan Al Qur'an dimulai hari selasa malam rabu dan dikhatamkan pada rabu malam. Pada acara khataman mengundang seluruh warga. Kemudian pada hari Kamis siang setelah dhuhur kegiatan diadakan di dekat makam, yaitu do'a bersama dan pengajian. Setelah selesai dilanjutkan dengan berziarah ke makam keluarganya masing-masing.
Dalam masa suana dan kondisi Corona 19 belum memberikan keleluasaan masyarakat Karanggayam, Segoroyoso, Pleret, Bantul untuk melakukan nyadran seperti biasanya. Akan tetapi panitia melakukan terobosan agar ritual yang sudah turun-temurun ini tetap dapat berjalan. Kegiatan tahun 2021 ini dimulai hari Rabu malam Kamis, yaitu kegiatan semaan Al Qur'an bin-nadhor. Kemudian dilanjutkan pagi harinya sampai sore hari. Dalam kegiatan ini ada dua majelis, yaitu majelis bapak-bapak dan majelis ibu-ibu.
Pada sore hari majelis ibu-ibu sudah khataman. Namun secara umum khataman dilakukan pada malam hari bersama seluruh warga. Kegiatannya yaitu khatmil Qur'an, tahlil, dan pengajian. Pada kegiatan ini masyarakat sangat antusias untuk menghadiri majelis. Mulai dari simbah-simbah, bapak-bapak, ibu-ibu, para pemuda-pemudi, anak-anak, dan semuanya. Kegiatan ini sebagai media untuk memanjatkan do'a kepada arwah leluhur (khusunya) dan seluruh keluarga dan seluruh mukminin dan muslimin.
Sebelum Jum'at an tadi, saya mendengar pengumuman dari panitia Sadranan. Diumumkan kepada seluruh warga Karanggayam, setelah shalat Jum'at untuk ziarah ke makam. Hal ini masih dalam rangkaian kegiatan Sadranan.
Selama dalam rangkaian kegiatan sadranan untuk masalah konsumsi dibagi dan dijadwal. Agar semua mendapatkan bagian yang merata. Untuk konsumsi mayoritas berisi makanan berat, yaitu nasi dan lauk-pauknya.
Semoga kegiatan ini dicatat oleh Allah SWT sebagai amalan yang baik. Dan kegiatan ini menurut penulis adalah sebagai kearifan lokal masyarakat Nusantara. Kegiatan nyadran memiliki banyak manfaat. Diantaranya: meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita, mendoa'akan arwah para leluhur, menyambung tali silaturahmi, menjaga tradisi, budaya, dan kearifan lokal, mengingatkan kita kepada kematian, dan lain sebagainya.

Comments
Post a Comment