PUASA DAN KESALEHAN SOSIAL

PUASA DAN KESALEHAN SOSIAL

Oleh : Barit Fatkur Rosadi

Puasa bagi orang islam adalah menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan syarattertentu, untuk meningkatkan ketaqwaan seorang muslim. Berpuasa salah satu dari rukun Islam.

Kita sadari atau tidak, puasa mengajarkan kita untuk menumbuhkan rasa sosial terhadap sesame makhluk. Kita dididik untuk keluar dari kebiasaan kita sehari-hari. Kalau kita biasanya dimanjakan dengan berbagai kemewahan. Namun pada bulan suci Ramadhan ini, kita bisa merasakan bagaimana seseorang yang memiliki kesederhanaan dalam kehidupannya. Kalua orang yang sederhana makan buka puasa satu piring, orang kayapun makan juga satu piring. Kita seharian penuh dididik untuk menahan segala hiruk-pikuk dunia. Kita digembleng untuk senantiasa mengingat Allah SWT.

Diantara contoh kesalehan sosial dibulan suci Ramadhan ini adalah banyak orang yang mendadak bersedekah, entah itu berupa makanan, minuman, uang, dan lain sebagainya. Hal ini bukan untuk pamer, akan tetapi merupakan suatu pembelajaran untuk kita agar cara pandang kita beribadah kepada Allah SWT banyak jalannya. Tidak hanya shalat saja, namun ibadah-ibadah sosial pun bisa menjadi perantara kecintaan kita kepada Allah SWT. 

Kalau kita membaca sejarah, Rasulullah SAW pernah bersabda:

ما آمَن بي مَن بات شبعانَ وجارُه جائعٌ إلى جنبِه وهو يعلَمُ به

الراوي : أنس بن مالك | المحدث : الهيثمي | المصدر : مجمع الزوائد

الصفحة أو الرقم: 8/170 | خلاصة حكم المحدث : إسناد البزار حسن

Rasulullah bersabda: “Tidaklah beriman kepada-Ku orang yang tidur dalam keadaan kenyang. Sedang tetangganya kelaparan sampai ke lambungnya. Padahal ia (orang yang kenyang) mengetahui.” (HR Bukhari).

Begitulah sabda Nabi sebagai pengingat kita agar ada keseimbangan antara ibadah ritual (ibadah mahdhah) seperti shalat, puasa, haji dan ibadah sosial (kesalehan sosial) seperti kedermawanan, kepedulian, saling bantu dan tolong-menolong. Apalagi di bulan suci Ramadhan dan di masa pandemi.

Maka wajar, kalau Nabi Muhammad SAW menyebut Ramadhan sebagai Syahr al-Muwasah atau bulan kepedulian sosial. Karena, Rasulullah SAW merupakan orang yang paling peduli dengan banyak bersedekah, dan ketika Ramadhan lebih kencang lagi sedekahnya, melebihi angin (HR Hakim dari Aisyah). Akhlak inilah yang patut kita contoh dan sebarkan.

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Dalam shahihain, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.” (HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307).

Di sisi lain, Islam adalah agama yang mencakup semua hal. Tak hanya urusan manusia dengan Tuhannya (hablumminallah), tetapi juga mencakup hubungan manusia dengan manusia (hablumminannas). Dari sinilah, ibadah shaum (puasa) mengandung dua dimensi sekaligus.

Pertama, dimensi vertikal bahwa shaum itu perintah wajib dari Allah (QS al-Baqarah: 183).

Kedua, dimensi horisontal. Artinya shaum berfungsi mengasah kepekaan dan kepedulian antarsesama. Betapa tidak enaknya, lapar dan dahaga. Betapa tidak enaknya menahan haus ketika terik panas siang hari.

Saat ini musuh bersama kita (dari dulu hingga sekarang) adalah kemiskinan dan kebodohan. “Pameran” kemiskinan terpapar jelas di sekeliling kita. Setiap kita, punya kewajiban untuk membantu sesama. Nah, momentum puasa Ramadhan ini menjadi pemantik kesadaran akan pentingnya solidaritas sosial dibanding solidaritas ritual semata. Bahkan, Alquran menyebutkan solidaritas dan kesalehan sosial lebih banyak mendapat perhatian daripada kesalehan ritual.

Dengan bahasa lain, ketika ada satu ayat Al-Qur’an yang berbicara mengenai kesalehan ritual, maka akan ada 100 ayat yang berbicara tentang kesalehan sosial. Demikian pula dalam hadis. Dalam Shahih Muslim, jumlah hadis yang membahas soal kemasyarakatan tiga kali lipat lebih banyak daripada yang mengatur perkara ibadah ritual. Ini membuktikan betapa kesalehan sosial menemukan “moment of truth” ketika masuk bulan Ramadhan.

Interpretasi makna sosial dalam kesalehan sosial memang masih terbatas pada relasi-relasi antarindividu dalam masyarakat. Yang diutamakan adalah tolong-menolong antarsesama. Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).

Secara lebih konkret, tolong-menolong itu diwujudkan dalam bentuk bantuan atau santunan dari mereka yang mampu kepada mereka yang kekurangan. Karena pahala menolong sesama di bulan Ramadhan itu dilipatgandakan

اِنَّ الۡمُصَّدِّقِيۡنَ وَالۡمُصَّدِّقٰتِ وَاَقۡرَضُوا اللّٰهَ قَرۡضًا حَسَنًا يُّضٰعَفُ لَهُمۡ وَلَهُمۡ اَجۡرٌ كَرِيۡمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah dengan pinjaman yang baik, akan dilipatgandakan (balasannya) bagi mereka; dan mereka akan mendapat pahala yang mulia.” (QS al-Hadid: 18).

Comments

Popular posts from this blog

MY LITTLE STORY WITH SHOGUN

Memberanikan Merangkai Kata

MENUTUP JALAN UMUM