Kesan 'Idul Fithri 1442 H Hari Pertama
Kesan 'Idul Fithri 1442 H Hari Pertama
Oleh : Barit Fatkur Rosadi
Dimulai malam takbiran masyarakat menyambut dengan sangat gembira. Semua masyarakat memeriahkan malam takbiran dengan cara mereka masing-masing. Sudah barang tentu malam takbiran yang kita kumandangan adalah bacaan takbir. Dulu diwaktu penulis masih kecil, setelah maghrib pergi ke Masjid atau Musholla. Kita mengumandangkan takbir diiringi bedhug, kenthongan, besi, kenong, atau barang seadanya.
Malam takbiran tahun ini sudah berbeda lagi, masyarakat sedang demam miniatur sounsystem. Ada beberapa kelompok yang lewat depan rumah penulis. Mereka menariknya dengan miniatur truck, dan ada juga yang menaikkan ke pick up. Saat kelompok terakhir melintas di depan rumah, tidak berselang lama mobil patroli polisi melintas. Para polisi melaksanakan tugas untuk mengingatkan masyarakat.
Kita semua tahu, masih dalam situasi dan kondisi yang belum menentu bersama pandemi covid-19, Pemerintah pusat sampai bawah memberikan himbuan agar tidak mudik dan tetap mematuhi protokol kesehatan. Dengan merayakan takbiran menggunakan miniatur dapat mengundang terjadi kerumunan. Sehingga jalan-jalan dipenuhi orang-orang takbiran yang seperti karnaval.
Kesan pertama, sejak mulai sore hari kita menimbangi beras zakat fitrah. Alhamdulillah tahun ini yang membayar zakat fitrah keMusholla Al-Munajat sekitar 37 orang. Kemudian kita bagikan kepada yang insyaAllah berhak menerima. Mulai setelah jama'ah maghrib sudah bisa mulai ditasarufkan. Alhamdulillah istirahat sebentar untuk shalat jama'ah isya'. Setelah itu dilanjutkan untuk mentasarufkan.
Kedua, di malam takbiran di Musholla kami akan memasang soundsystem. Supaya lebih menggelegar suaranya dan suasana Musholla lebih meriah. Namun pada kesempatan inikita belum berhasil. Soundsystem sudan didatangkan dan siap dinyalakan dan diuji coba. Beberapa kali dicoba ternyata belum bisa juga. Setelah dicari-cari permasalahannya, akhirnya ketemu, yaitu speedometer Musholla dayanya kurang support. Ada solusi mendatangkan ahli listrik. Akan tetapi belum teratasi juga. Sehingga, kami harus menunda dengan menggunakan sounsystem besar.
Ketiga, penulis mejadi imam dan khotib hari raya idul fithri 1442 H / 2021 M. Saat menjadi imam pada rakaat kedua hampir lupa membaca takbir dan saat membaca surat al-Ghosiyah juga lupa. Mungkin ini pengalaman pertama menjadi imam shalat id. Akibatnya, dalam melafalkan ayat-ayat suci al-Qur'an ada rasa grogi, suaranya menjadi getar. Sehingga ada ayat yang lupa.
Keempat, membawa ambeng ke Musholla. Masyarakat membawa nasi gurih dan ayam lodho. Di Musholla sudah ada petugas yang menerimanya. Alhamdulillah pada kesempatan ini ada 20 ambeng lebih. Sedangkan jama'ah yang datang ke Musholla sekitar 50 lebih. Seusai sholat id, khutbah, dan mahalul qiyam, ambeng dikeluarkan dan dibagi ke para jama'ah. Satu ambeng bisa untuk 2 atau 3 orang. Sebelum menyantap ambeng, kita laksanakan hadiah fatihah dan tahlil singkat. Setelah itu, para jama'ah bisa membaginya masing-masing dengan memberikan "purihan" artinya ada sebagian ayam yang disisakan untuk pemiliknya.
Kelima, pada masa pandemi seperti sekarang ini dan adanya himbauan pemerintah terkait protokol kesehatan dan anjangsana. Masyarakat yang biasanya silaturrahmi di lingkungan menjadi berkurang. Jalanan-jalanan begitu sepi, tanpa adanya masyarakat yang jalan-jalan. Padahal, tradisi anjangsana dari satu rumah ke rumah sudah sejak zaman dulu.
Keenam, jajan yang disuguhkan di atas meja kurng diminati. Disaat masyarakat melakukan anjangsana banyak yang ngalap cekap. Datang ke rumah, salam, salaman, duduk sebentar. Kemudian anak-anak diberi amplop kecil berisi uang. Setelah itu mereka pamit. Adapula yang datang ke rumah salam, salaman, terus keluar lagi. Inilah ngalap cekap.
Ja'alanallahu minal 'aidziina wal faaiziin. Semoga Allah menjadikan termasuk golongan orang-orang yang kembali kepada fithrah (kesucian diri/ jiwa) dan orang-orang yang menang/ beruntung (karena bisa mengalahkan nafsu selama puasa di bulan Ramadlon). Aamiiin.
Selamat Hari Raya 'Idul Fithri 1 Syawal 1442 H. Kami dan Keluarga Mengucapkan Mohon Maaf Lahir dan Bathin.

Comments
Post a Comment