Sakit Sebagai Media Instropeksi Diri

Sakit Sebagai Media Instropeksi Diri

Oleh : Barit Fatkur Rosadi

Kita sebagai manusia biasa pasti pernah merasakan sakit. Kita senantiasa berdo’a kepada sang pemilik jiwa dan raga agar selalu diberikan kesehatan. Sakit menjadi bagian proses kita dalam mengarungi kehidupan di dunia. Kita dapat merasakan yang namanya sakit dari diri kita masing-masing. Mau makan dan minum tidak bernafsu, mau beraktivitas jadi malas. Sakit datangnya secara tiba-tiba, tidak mengenal usia, tidak mengenal waktu dan tempat.

Banyak ragam penyakit yang Allah swt turunkan di muka bumi ini. Mulai dari penyakit dalam kategori ringan sampai kategori paling berat, dan bahkan berujung sampai pada kematian. Semuanya ada tanpa ada yang menghalang-halangi. Sebagai seorang mukmin, kita memiliki keyakinan bahwa apa yang Allah swt turunkan penyakit ke bumi pasti ada ibrah/pelajaran yang bisa pelajari. Kita harus selalu mendekat kepada Allah SWT.

Penyakit ini juga pernah menimpa hidup seorang nabi, yakni Nabi Ayyub as. Penyakit yang bersarang pada raga Nabi Ayyub selama 18 tahun lamanya. Tidak ada bagian tubuh nabi Ayyub yang tidak sakit kecuali mulutnya yang senantiasa digunakan berzikir kepada Allah SWT. Setelah 18 tahun menerima penyakit tersebut dengan penuh rasa sabar, Nabi Ayyub kemudian memohon kepada Allah agar penyakitnya segera diangkat.

"Nabi Ayyub memohon pada Allah dengan mengucapkan 'Wa ayyuba 'idz naada rabbahu 'annii massaniiyaddhurru wa 'anta arhamurrohimin',".

Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia berdoa kepada Tuhannya : "(Ya Tuhanku) sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Maha Penyayang dari semua yang penyayang. (QS. Al Anbiya ayat 83).

Kemudian do’a Nabi Ibrahim terkait penyakit, sebagaimana tertulis dalam surat Asy-Syuraa ayat 80 : "Wa idzaa maridhtu fahuwa yasyfiini", yang artinya "Dan apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkan aku".

Begitu juga disebutkan dalam hadits, "Ma’anzalallahu daa an, illa anzala lahu syifaan," (HR. Bukhori), artinya "Allah tidak akan menurunkan satu penyakit kecuali Allah turunkan juga obatnya".

"Jadi setiap penyakit ada obatnya kecuali satu saja, kematian. Kematian tidak bisa disembuhkan artinya kalau sudah mati ya sudah. Tapi kalau penyakit-penyakit fisik dan psikis ada penangkalnya. Sebagai hamba Allah swt, kita harus yakin dan percaya akan semua kehendak Allah swt.

Kita menyadari, saat ini pandemi covid-19 masih menerpa dunia. India, gelombang tsunami menerpa negara ini. Berapa ratus ribu nyawa melayang dalam kurun waktu beberapa hari. Kita sebagai umat manusia harus mewaspadai kejadian-kejadian yang terkadang akal kita sendiri tidak sampai memikirkannya. Kita tidak boleh lengah, menjaga diri, keluarga, dan semuanya demi kebaikan bersama.

Ibu mertua saya yang di Jogja, mulai sabtu, 24 April 2021 opname di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Beliau harus berjuang melawan penyakit yang berada dalam tubuhnya. Beberapa hari ditunggu anak laki-lakinya dan dijenguk keluarga lainnya. Akan tetapi mulai hari kamis, beliau dipindahkan ke ruang ICU. Keluarga tidak boleh ada yang menunggu hanya dokter dan perawat yang mengurusnya. Semua keluarga hanya bisa berd’oa dan pasrah kepada Allah swt. Semoga ibu kami, atas kehendak Allah swt melalui para tenaga medis dapat segera sehat kembali. Kami yakin, Allah yang datangkan penyakit, dan Allah pula yang dapat memberikan kesembuhan. Semoga dengan lantaran al-Qur’an yang beliau pegang, Allah swt berikan keajaiban.

Kita semua berdo’a agar selalu diberikan kesehatan. Kita bisa berkata sehat karena ada yang sakit. Disaat kita sakit dan mau instropeksi diri, kita akan merasakan betapa mahalnya kesehatan. Lebih jauh lagi, kita mengingat betapa hinanya kita disaat jauh dari Allah swt. Selama diri jasad ini masih bisa bernafas, ruh yang berada dalam diri kita masih menyatu. Sudah sepatutnya dan sebagai kewajiban kita untuk selalu mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah swt.

Ramadhan bulan suci, bulan penuh kenikmatan, ampunan, dan kerahmatan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah swt. Melalui perjuangan kita yang senantiasa berusaha untuk menjalankan perintah-perintah-Nya dan berusaha menjauhi segala larangan-Nya. InsyaAllah do’a - do’a kita diijabah Allah swt. Kita yakin, do’a kita pasti diijabah Allah swt. Hanya waktunya kita yang tidak tahu, entah langsung atau ada selang waktu detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, dan bahkan tahunan.

Wallahu A’lam Bisshawab.  

Comments

Popular posts from this blog

MY LITTLE STORY WITH SHOGUN

Memberanikan Merangkai Kata

MENUTUP JALAN UMUM