ANAKKU ADZAN
ANAKKU ADZAN
Oleh : Barit Fatkur RosadiTak terasa usia ini semakin bertambah sekaligus berkurang. Sebagai manusia biasa kita perlu amal baik yang banyak untuk bekal di akhirat. Anak menjadi salah satu investasi berharga bagi sebuah keluarga. Kita akan sangat bahagia ketika melihat anak-anak kita menjadi anak-anak yang sholih dan sholihah. Masing-masing kita memiliki standar penilaian baik kepada anak-anak kita.
Sebagai manusia yang dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga muslim, tentunya kita bahagia melihat anak-anak kita rajin ke Masjid atau Musholla. Apalagi mereka telah berani melantunkan adzan, setelah itu puji-pujian, dan iqomat. Hal yang demikian terasa sepesial. Karena mereka suka melantunkan kalam Illahi dan Shalawat Nabi.
Adzan merupakan salah satu ajaran agama yang agung.
Menurut bahasa, adzan berarti mengumumkan sesuatu. Kata adzan pun termaktub dalam ayat
Alquran. Di antaranya QS al-Anbiyaa: 109. "Aku telah menyampaikan
kepada kamu sekalian (ajaran) yang sama."
Di ayat yang lain, Allah SWT juga
menggunakan kata adzan untuk menyampaikan firman-Nya. "Dan (inilah)
suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya." (QS a-Taubah:3).
Pemakluman mengambil makna dari kata adzan dalam kalimat tersebut.
Menurut tafsir Ibnu Katsir, pemakluman dalam kalimat
tersebut berarti pemberitahuan dan pendahuluan peringatan kepada semua orang.
Menurut syariat, adzan berarti pemberitahuan tentang waktu shalat dengan lafal
yang khusus ditetapkan syariat. Dalam Ensiklopedi Shalat Menurut
Alquran dan Sunah, Dr Sa'id bin Ali bin Wahf al-Qahthani menjelaskan,
hukum adzan merupakan fardhu kifayah.
Penetapan hukum tersebut
didasarkan kepada firman Allah SWT. "Dan apabila kalian menyeru
(mereka) untuk (mengerjakan) shalat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan
permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak
mau mempergunakan akal." (QS al-Maidah: 58). Demikian dengan firman
Allah SWT, "Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk
menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kalian kepada mengingat
Allah." (QS al-Jumuah: 9).
Hukum fardhu kifayah untuk adzan pun didasarkan kepada
perintah Rasulullah SAW dalam sebuah hadis. "Jika telah tiba waktu
shalat, hendaklah salah seorang di antara kalian mengumandakan adzan untuk
kalian, dan hendaklah orang yang paling tua di antara kalian yang menjadi
imam." (HR Bukhari).
Adanya kalimat salah satu dari
kalian menjadi dasar hukum fardhu kifayah untuk pelaksanaan adzan. Hukum fardhu
kifayah menjadikan umat Islam selayaknya berlomba-lomba menjadi muadzin untuk
mengumandangkan adzan. Sebagai penyeru shalat, muadzin dipuji oleh Allah
sebagai orang yang paling baik perkataannya.
"Siapakah yang lebih baik
perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang
shalih dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah
diri." (QS Fushshilat: 33). Muadzin
juga disebutkan Rasulullah SAW sebagai kepercayaan umat manusia, sedangkan imam
sebagai penanggung jawab shalat.
Rasulullah pun mendoakan secara
khusus kepada muadzin agar diberi ampunan karena perannya dalam shalat. Tak
hanya itu, seorang muadzin juga akan diberikan pahala berlipat ganda. Sampai-sampai,
Rasulullah SAW bersabda jika seandainya manusia mengetahui seruan adzan,
kemudian mereka tidak akan mendapatkannya kecuali lewat undian, niscaya mereka
akan berundi. Seorang muadzin sampai membuat bangga Allah SWT.
Seorang penyeru shalat pun akan
diberikan ampunan dari Tuhannya dan dijamin masuk surga. Dalam hadis riwayat
Abu Dawud, Rasulullah SAW mengatakan bahwa Allah SWT telah menyaksikan
orang-orang yang mengumandangkan adzan dan iqamah karena rasa takut. Allah pun
telah memberikan ampunan kepada hamba-Nya dan memasukkannya ke dalam surga.
Anak kami masih sekitar 5,5 Tahun, Alhamdulillah pada hari selasa, 6 Juli 2021 waktu isya' telah berani adzan di Musholla. Ada beberapa anak yang usianya sudah terlebih dulu adzan di Musholla. Musholla kami memang baru, akan tetapi sudah digunakan untuk mengaji anak-anak TPQ Arrohman. Pada saat waktu sore anak-anak mengaji. Saat itulah diantara anak laki-laki belajar adzan ashar. Menurut penulis, disaat ada teman yang sebaya berani adzan, secara tidak langsung anak-anak yang lain menirukan dan ingin pegang mic untuk adzan atau pujian.
Membiasakan mereka untuk berani adzan memang subhanallah. Sebab, mungkin diantara kita mendengar adzan yang mengumandangkannya suaranya sudah terbata-bata. Kalau seperti itu mungkin kita bisa menebak kalau yang adzan adalah orang yang sudah tua. Dengan demikian, kalau kita yang sudah merasa tua, dan ada anak yang lebih muda ingin adzan, mari kita berikan kesempatan kepada mereka.
Manakala Masjid dan Musholla dihuni banyak anak, akan terasa lebih hidup dan semarak. Di dalam diri anak terapat ekspresi jiwa yang bebas. Mereka dapat ketawa lepas. Mereka dapat menyeru adzan dengan suara yang lepas. Jadi, kalau jama'ah sudah membaur, maka Masjid dan Musholla akan lebih terasa makmur. Semoga Allah lindungi kita semua dari bala bencana. Umat muslim dapat istiqomah dalam mengerjakan kebaikan.
Wallahu A'lam Bisshawab.

Comments
Post a Comment