Hari Pramuka di Bukit Walikukun

Hari Pramuka di Bukit Walikukun

Oleh : Barit Fatkur Rosadi

Pesona alam bukit walikukun memiliki daya tarik tersendiri. Akses masuk ke lokasi kita mulai dari perempatan pasar desa Junjung, Sumbergempol, Tulungagung. Kita masuk ke seletan melalui perkampungan, menyeberangi sungai, sampai totokan pertigaan, kalau arah ke timur goa pasir, kita ambil yang ke arah barat. Dalam menuju lokasi Bumi Perkemahan, kita juga disuguhi dengan pemandangan sawah dengan berbagai jenis tanaman, yang tak kalahnya lagi, di sekitar lokasi ada tempat-tempat karaoke dan warung-warung kopi. Jadi, kita yang berkunjung ke Bumi Perkemahan Ma'arif NU Tulungagung, jangan khawatir, ada beberapa warung yang menyediakan berbagai makanan dan minuman. 

Keseriusan LPMNU menggarap Bumi Perkemahan tidak main-main dan tidak diragukan lagi. Beliau-beliau pengurus dari LP Ma'arif NU menjalin komunikasi yang baik dengan pihak-pihak terkait, seperti : Perhutani, Pemerintah desa, warga sekitar. Bukti nyata yang saat ini sudah bisa kita rasakan adalah adanya akses jalan sampai tempat tujuan. Sebelumnya, untuk sampai ke tujuan kendaraan kita parkir di rumah warga, kemudian kita jalan setapak untuk sampai lokasi. Namun saat ini, kendaraan bisa kita parkir di dekatnya. Bahkan yang luar biasa, ada jalan baru yang cukup untuk mobil masuk samapai lokasi. Tentu hal ini luar biasa, dengan komunikasi yang baik memberikan hasil yang baik pula.

Dalam rangka memperingati hari pramuka ke 60, pengurus Sakoma Tulungagung memiliki dua agenda. Pertama, Renungan malam 14 Agustus 2021. Kegiatan ini saya melihat memunculkan energi positif untuk kegiatan pramuka ke depan, khusunya di lingkungan LP Ma'arif NU Tulungagung. Dalam wadah Sakoma diharapkan mampu mencetak manusia pancasila yang sesungguhnya dan berhaluan Ahlussunnah Wal Jama'ah Annahdliyah. Mereka akan mempunyai mental juara dan cita-cita yang tinggi yang dilambangkan pohon nyiur menjulang tinggi. Seperti simbol pramuka yaitu tunas kelapa, yang dari akar sampai ujungnya memiliki manfaat. Seharusnya bisa menjadi renungan untuk kita semua, bahwa menjadi pramuka harus bermanfaat bagi sesama dan semuanya. Karena di dalam pramuka kita diajarkan Dasa Dharma.

Semenjak adanya wabah corona, semua sektor terdampak, tidak lain adalah kegiatan kepramukaan. Agenda kedua adalah upacara Hari Pramuka ke 60 di Bumi Perkemahan Ma'arif NU Tulungagung. Dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, kita buktikan bahwa kita bisa. Acara ini dihadiri kepala madrasah, para pembina, dan unsur lainnya. Walaupun dalam keterbatasan, saya rasa kegiatan ini dapat mengobati rasa rindu kita untuk mengenakan baju coklat-celana coklat. Kalau kita rasakan dan kalau kita mau berfikir pakaian dan atribut seragram ini memiliki arti yang mendalam. 

Mengukir sejarah itu tidak serta merta langsung jadi. Butuh waktu untuk melakukannya. Pengurus Ma'arif dan Sakoma Kabupaten berusaha keras untuk mewujudkan cita-cita mulianya. Menjadikan Bumi Perkemahan Ma'arif NU Tulungagung sebagai tempat pendidikan. Pendidikan karakter kepada para generari Ma'arif yang berhaluan Ahlussunnah Waljama'ah Annahdliyah. Pramuka butuh tempat untuk berekspresi, butuh tempat untuk pendidikan para kadernya, mendidik mereka agar mampu bertahan hidup dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun.

Dengan momentun hari ulang tahun pramuka ke 60. Kita berdo'a agar cita-cita luhur keluarga besar LP Ma'arif dikabulkan Allah swt. Meskipun masih dalam suasana PPKM. Kita punya keyikanan yang sangat kuat. Karena Allah swt selalu ada dalam diri kita. Kalau Allah sudah berkehendak, maka tidak ada yang tidak mungkin.

Wallahu A'lam Bis Shawab.

Comments

Popular posts from this blog

MY LITTLE STORY WITH SHOGUN

Memberanikan Merangkai Kata

MENUTUP JALAN UMUM