ISTIGHOTSAH KEMERDEKAAN

ISTIGHOTSAH KEMERDEKAAN


Oleh : Barit Fatkur Rosadi

Kata “istighotsah” استغاثة berasal dari “al-ghouts” الغوث yang berarti pertolongan. Dalam tata bahasa Arab kalimat yang mengikuti pola (wazan) "istaf’ala" استفعل atau "istif'al" menunjukkan arti pemintaan atau pemohonan. Maka istighotsah berarti meminta pertolongan. Seperti kata ghufron غفران yang berarti ampunan ketika diikutkan pola istif'al menjadi istighfar استغفار yang berarti memohon ampunan. Jadi istighotsah berarti "thalabul ghouts" طلب الغوث atau meminta pertolongan. Para ulama membedakan antara istghotsah dengan "istianah"  استعانة, meskipun secara kebahasaan makna keduanya kurang lebih sama. Karena isti'anah juga pola istif'al dari kata "al-aun" العون yang berarti "thalabul aun" طلب العون yang juga berarti meminta pertolongan.

Istighotsah adalah meminta pertolongan ketika keadaan sukar dan sulit. Sedangkan Isti'anah maknanya meminta pertolongan dengan arti yang lebih luas dan umum. Baik Istighotsah maupun Isti'anah terdapat di dalam nushushusy syari'ah atau  teks-teks Al-Qur'an atau hadits Nabi Muhammad SAW. Dalam surat Al-Anfal ayat 9 disebutkan: 

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ "(Ingatlah wahai Muhammad), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu lalu Dia mengabulkan permohonanmu." (QS Al-Anfal:9) Ayat ini menjelaskan peristiwa ketika Nabi Muhammad SAW memohon bantuan dari Allah SWT, saat itu beliau berada di tengah berkecamuknya perang badar dimana kekuatan musuh tiga kali lipat lebih besar dari pasukan Islam. Kemudian Allah mengabulkan permohonan Nabi dengan memberi bantuan pasukan tambahan berupa seribu pasukan malaikat.

Dalam surat Al-Ahqaf ayat 17 juga disebutkan;  وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ "Kedua orang tua memohon pertolongan kepada Allah." (QS Al-Ahqaf:17). Yang dalam hal ini adalah memohon pertolongan Allah atas kedurhakaan sang anak dan keengganannya meyakini hari kebangkitan, dan tidak ada cara lain yang dapat ditempuh oleh keduanya untuk menyadarkan sang anak kecuali memohon pertolongan dari Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dari kedua cuplikan ayat ini barangkali dapat disimpulkan bahwa istighotsah adalah memohon pertolongan dari Allah SWT untuk terwujudnya sebuah "keajaiban" atau sesuatu yang paling tidak dianggap tidak mudah untuk diwujudkan. Istighotsah sebenamya sama dengan berdoa akan tetapi bila disebutkan kata istighotsah konotasinya lebih dari sekedar berdoa, karena yang dimohon dalam istighotsah adalah bukan hal yang biasa biasa saja. Oleh karena itu, istighotsah sering dilakukan secara kolektif dan biasanya dimulai dengan wirid-wirid tertentu, terutama istighfar, sehingga Allah SWT berkenan mengabulkan permohonan itu.

Istighotsah juga disebutkan dalam hadits Nabi,di antaranya :

إنَّ الشَّمْسَ ‏تَدْنُوْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَبْلُغَ الْعَرَقُ نِصْفَ الْأُذُنِ, فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ اسْتَغَاثُوْا بِآدَمَ ثُمَّ ‏بِمُوْسَى ثُمَّ بِمُحَمَّدٍ

Matahari akan mendekat ke kepala manusia di hari kiamat, sehingga keringat sebagian orang keluar hingga mencapai separuh telinganya, ketika mereka berada pada kondisi seperti itu mereka beristighotsah (meminta pertolongan) kepada Nabi Adam, kemudian kepada Nabi Musa kemudian kepada Nabi Muhammad. (H.R.al Bukhari).

Hadits ini juga merupakan dalil dibolehkannya meminta pertolongan kepada selain Allah dengan keyakinan bahwa seorang nabi atau wali adalah sebab. Terbukti ketika manusia di padang mahsyar terkena terik panasnya sinar Matahari mereka meminta tolong kepada para Nabi. Kenapa mereka tidak berdoa kepada Allah saja dan tidak perlu mendatangi para nabi tersebut? Seandainya perbuatan ini adalah syirik niscaya mereka tidak melakukan hal itu dan jelas tidak ada dalam ajaran Islam suatu perbuatan yang dianggap syirik.

 Sedangkan isti'anah terdapat di dalam Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ

Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS Al-Baqarah: 45)

Momentum hari kemerdekaan di tengah-tengah pandemi membuat kita berfikir dan memunculkan ide mengadakan acara. Pastinya acara yang tidak melanggar peraturan pemerintah. Hari kemerdekaan sebagai bahan instropeksi dan refleksi negeri tercinta, agar terus semakin maju yang selalu dalam lindungan Allah SWT. Pandemi bukan alasan kita untuk tidak mengingat perjuangan para founding father NKRI. Namun kita harus lebih mencintai bangsa dan negara dengan sepenuhnya.

Di malam 17 Agustus banyak kita lihat di sudut-sudut kampung, di jalan-jalan, di Musholla, di Masjid, di lapangan, dan tempat-tempat lain mengadakan acara. Kalau sebelum pandemi, kita banyak melihat acaranya pentas dangdut, karaoke, dan lain-lain. Namun, dimasa seperti ini kita banyak melihat kegiatan do’a bersama dan istighotsah. Sembari ke lokasi, masyarakat berbondong-bondong datang dengan membawa makanan, seperti : nasi lodho dan lain sebagainya.

Masyarakat sangat antusias menyambut hari kemerdekaan dengan caranya masing. Sebelum pandemi kita lihat kegiatan upacara dimana-mana dengan begitu meriahnya. Namun disaat pandemi, kita banyak yang melakukannya dengan virtual. Sebelum pandemi, kita melihat anak-anak sekolah dan masyarakat mengadakan berbagai macam perlombaan. Seperti : panjat pinang, balap karung, balap kelereng, makan krupuk, lomba masak, memecahkan balon, baca puisi, mendongeng, baris berbaris, karnaval, eksposisi, dan banyak lagi perlombaan-perlombaan yang lucu.

Hari Ulang Tahun (HUT) sebagai momentum untuk mengingat perjuangan para pejuang bangsa yang dengan gigih melawan penjajah. Kita sebagai Warga Negara Indonesia harus bangga dengan negeri kita sendiri. Kita harus merawat dan menjaganya dengan kemampuan kita masing-masing. Karena kita diajarkan bahwa mencintai tanah air adalah sebagian dari iman (Hubbul Wathon Minal Iman). Dengan demikian, rasa memiliki dan mencintai bumi pertiwi ini harus selalu menancap di relung hati. Agar dari generasi ke generasi mengetahui akan sejarah bangsanya dan bagaimana cara merawatnya dan menjaganya.

Indonesia adalah salah satu negara yang dianugerahkan Allah swt kepada kita yang berwarga negara Indonesia. Salah satu usaha untuk menjaganya ialah dengan melaksanakan do’a bersama/ istighotsah. Kita memohon kepada Allah swt agar senantiasa menjaganya. Istighotsah kemerdekaan bersama masyarakat dilakukan agar kita tetap ingat kebesaran negeri ini dan kebesaran Allah swt. Untuk menjaga NKRI butuh usaha secara dhohir dan bathin. Di dalam usaha dhohir, negara memiliki TNI-POLRI. Di dalam usaha bathin, kita memiliki para wali, kyai, ulama, dan masih banyak lagi. Kita sebagai masyarakat biasa juga bisa mengikuti kegiatan istighotsah sebagai salah satu usaha bathin.

Selamat HUT RI ke-76.

Wallahu A’lam Bisshawab.

Comments

Popular posts from this blog

MY LITTLE STORY WITH SHOGUN

Memberanikan Merangkai Kata

MENUTUP JALAN UMUM